MEDAN — Perjalanan Fajar Lailatul Mi’rojiyah dari Medan menuju China memakan waktu lebih dari sembilan jam. Setelah terbang dari Jakarta, ia melanjutkan perjalanan darat sekitar dua setengah jam menuju Ningbo City, lokasi pelatihan di Ningbo Polytechnic University.
Tiba pada malam hari, delegasi Indonesia tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian acara pembukaan. Namun, pada hari-hari berikutnya, peserta langsung mendapat materi tentang sistem pendidikan vokasi China, kebijakan pembangunan nasional, hingga penerapan konsep Luban Workshop di berbagai negara.
Materi pelatihan menekankan pentingnya pendidikan berbasis praktik dan penguatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Laila, sapaan akrabnya, mengaku mendapatkan perspektif baru soal pengembangan pembelajaran kontekstual dan kolaboratif.
“Pelatihan ini membuka wawasan saya tentang pentingnya kolaborasi internasional dalam dunia pendidikan dan bagaimana pendidikan vokasi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan dunia kerja,” ujarnya belum lama ini.
Selain sesi akademik, peserta diajak mengunjungi Museum Pendidikan China yang menampilkan sejarah pendidikan di negara tersebut. Mereka juga mengikuti praktik kerajinan kayu tradisional sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Menurut Laila, pengalaman itu menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga berperan dalam membangun karakter dan menjaga warisan budaya.
Kunjungan lapangan berlanjut ke Desa Shuangshi untuk melihat penerapan pembangunan berbasis masyarakat. Peserta mempelajari bagaimana pendidikan dapat mendorong kemajuan sosial dan ekonomi warga. Perjalanan kemudian berlanjut ke Kota Hangzhou, tepatnya ke kawasan budaya Hefang Street, untuk mempelajari pemanfaatan lingkungan dan budaya lokal sebagai sumber pembelajaran.
Pada sesi berikutnya, peserta mendapat materi tentang manajemen mutu pendidikan, pengembangan perguruan tinggi vokasi, dan pendidikan kewirausahaan. Kegiatan ini dilengkapi kunjungan ke Zhejiang Financial College untuk melihat langsung kerja sama antara lembaga pendidikan dan dunia industri.
Laila menilai pendidikan kewirausahaan menjadi aspek penting yang perlu diperkuat untuk membentuk generasi yang kreatif, mandiri, dan mampu menciptakan lapangan kerja.
Di akhir program, peserta mengunjungi San Guan Liu Heritage Study Centre dan Belt and Road International School untuk mempelajari pelestarian budaya serta strategi internasionalisasi pendidikan.
Laila menegaskan bahwa pengalaman di China memberikan pelajaran berharga tentang pengembangan pendidikan modern yang berpadu dengan pelestarian budaya dan penguatan kompetensi global.
“Pendidikan masa depan membutuhkan kemampuan berkolaborasi secara internasional, penguasaan teknologi, komunikasi global, dan adaptasi terhadap berbagai budaya. Pengalaman ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus mengembangkan kualitas pembelajaran di madrasah,” ujarnya.
Ia menilai kemajuan China di bidang infrastruktur dan pendidikan menunjukkan komitmen kuat dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing di tingkat global.