Kajati Sumut Muhibuddin Banjir Air Mata Saat Wisuda di Yayasan Miftahussalam Medan, Ungkap Pesan untuk Pelajar

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 23 Mei 2026 | 19:58:01 WIB
Kajati Sumut Muhibuddin tampil haru saat memberikan sambutan di Wisuda Yayasan Miftahussalam Medan.

MEDAN — Suasana haru menyelimuti Aula Abu Keumala Gedung Yayasan Pendidikan Islam Miftahussalam, Kecamatan Medan Petisah, saat Muhibuddin naik ke panggung. Ia hadir dalam acara Wisuda ke-XVIII dan Wisuda Tahfidz ke-III, Jumat (22/5/2026).

Di hadapan para wisudawan, Kajati Sumut itu mengaku kedatangannya bukan sekadar formalitas. “Saya bangga dengan sekolah ini, saya terharu,” ucapnya dengan suara bergetar.

Pesan untuk Generasi Muda: Hadapi Kesulitan Demi Kesuksesan

Muhibuddin menyempatkan diri memberi wejangan kepada para siswa. Ia mengingatkan bahwa kesuksesan tidak datang tanpa perjuangan. “Jika ingin meraih sukses, hadapilah kesulitan saat bersekolah. Dengan memenangkan kesulitan, niscaya kita akan mencapai kemudahan,” pesannya.

Ia juga mengutip syair Al-Imam Asy-Syafi’i. “Barang siapa yang tak mau menelan pahitnya belajar sesaat, akan menelan kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya,” katanya, disambut tepuk tangan hadirin.

Kebanggaan Yayasan: Alumni Sukses Jadi Inspirasi

Kehadiran Muhibuddin menjadi momen istimewa bagi pihak sekolah. Prof Dr Bustamisyam MSME, pimpinan Yayasan Miftahussalam, menyebut pencapaian Muhibuddin sebagai bukti nyata kualitas pendidikan di lembaganya.

“Hari ini kita bangga dengan kehadiran salah satu alumni yayasan, Bapak Muhibuddin, yang menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Ini kebanggaan luar biasa. Semoga anak-anak didik terinspirasi untuk meraih sukses dan menjadi kebanggaan bersama,” ujar Bustamisyam.

Nostalgia di Lorong Sekolah yang Tak Pernah Berubah

Usai memberikan sambutan, Muhibuddin menyempatkan diri berkeliling area sekolah. Ia tampak menatap bangku-bangku kayu di ruang kelas lama dan berjalan di lorong yang dulu sering ia lalui. Air matanya kembali mengalir saat melihat ruang perpustakaan yang masih mempertahankan arsitektur lama.

“Di sinilah saya dulu belajar mengaji dan berhitung. Semua masih sama,” bisiknya kepada salah satu guru yang mendampingi.

Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan seorang anak bangsa berawal dari ketekunan di bangku sekolah dasar. Bagi para siswa Miftahussalam, sosok Muhibuddin adalah cermin bahwa mimpi besar bisa lahir dari kelas-kelas sederhana di Medan Petisah.

Reporter: Fajar
Sumber: 1kabar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top