MEDAN — Prof Nurhayati baru saja kembali dari rangkaian kunjungan ke Urumqi, Kashgar, dan Beijing sebagai bagian dari Delegasi Islam wilayah kerja Konsulat Jenderal China di Medan. Selama perjalanan itu, ia menyaksikan langsung aktivitas keagamaan masyarakat Muslim yang berjalan normal dan mendapat dukungan dari pemerintah setempat.
"Perjalanan ini membuat saya memahami lebih dalam dan secara langsung perkembangan komunitas Muslim di China," ujar Nurhayati dalam pernyataannya, Senin (24/3).
Salah satu temuan yang mengejutkan adalah perhatian pemerintah China terhadap pengembangan pendidikan Islam. Saat mengunjungi Institut Islam Xinjiang, delegasi mendapat penjelasan tentang program beasiswa yang disediakan untuk mencetak imam yang nantinya bertugas di berbagai masjid.
"Kami melihat kehidupan beragama masyarakat Muslim berjalan dengan baik. Kami juga melihat adanya dukungan terhadap pengembangan pendidikan Islam," kata Nurhayati.
Ia mencontohkan Masjid Dongsi di Beijing yang telah berusia lebih dari 600 tahun. Bangunan itu masih berdiri kokoh dan aktif digunakan untuk kegiatan ibadah hingga kini. Beberapa masjid bahkan memiliki unit usaha yang digunakan untuk mendukung biaya operasional, pemeliharaan bangunan, serta pembayaran imam.
Nurhayati secara khusus menyoroti perbedaan antara informasi yang beredar di media sosial dengan apa yang ia saksikan langsung. Ia menilai banyak konten yang menyebut kurangnya perhatian pemerintah China terhadap masyarakat Muslim tidak akurat.
"Beberapa informasi di media sosial berbeda dengan apa yang saya saksikan sendiri," ujarnya.
Ia berharap hasil kunjungan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kondisi komunitas Muslim di China. Selain itu, pertukaran dan komunikasi antara kedua negara diharapkan semakin kuat ke depannya.