MEDAN — Pembiayaan perbankan untuk komoditas jagung di Sumatera Utara menunjukkan lonjakan hampir tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir. Data OJK per Maret 2026 mencatat angka Rp716,5 miliar, dengan hampir seluruhnya disalurkan ke pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, menekankan bahwa pengembangan jagung berada di persimpangan strategis antara ketahanan pangan, pengendalian inflasi, dan kesejahteraan petani. “OJK mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan atas inisiasi kegiatan strategis ini sebagai wadah memperkuat sinkronisasi, sinergi, dan kolaborasi,” ujarnya dalam acara penandatanganan kerja sama di Kantor Bupati Tapanuli Selatan, Rabu (6/5/2026).
Kolaborasi pengembangan jagung di Tapanuli Selatan melibatkan sejumlah pihak strategis. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan meneken perjanjian dengan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara Cabang Sipirok, Perum Bulog Kantor Cabang Padangsidimpuan, BPJS Ketenagakerjaan Padangsidimpuan, serta kelompok tani setempat.
Kerja sama ini tidak hanya menyasar pembiayaan, tetapi juga pendampingan, penguatan ekosistem usaha, dan kepastian pasar bagi petani. Langkah ini dinilai krusial karena selama ini petani jagung kerap menghadapi masalah harga fluktuatif dan akses modal terbatas.
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menegaskan pentingnya fondasi ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global. “Kita tidak bisa mengendalikan geopolitik dunia, tetapi kita bisa memperkuat fondasi ekonomi daerah melalui kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat,” katanya.
Menurut Gus Irawan, pengembangan jagung menjadi salah satu prioritas karena komoditas ini memiliki rantai pasok yang panjang dan menyerap banyak tenaga kerja. Ia berharap kolaborasi dengan Bulog dapat menjamin harga jual yang stabil, sementara perbankan memastikan petani tidak kesulitan modal saat musim tanam.
OJK mencatat bahwa meskipun kredit jagung Sumut sudah tembus Rp716,5 miliar, distribusinya masih belum merata. Tapanuli Selatan dinilai memiliki lahan dan potensi produksi yang besar, namun penetrasi pembiayaan di daerah itu masih di bawah optimal.
Khoirul Muttaqien menambahkan bahwa ke depan, skema KUR pertanian perlu diperkuat dengan pendampingan teknis dan akses pasar. “Dukungan pembiayaan sektor jasa keuangan diharapkan dapat memperluas akses permodalan bagi petani dan UMKM,” ujarnya.
Penandatanganan kerja sama ini menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem jagung yang lebih terintegrasi—dari lahan, modal, hingga pembeli. Jika berhasil, Tapanuli Selatan bisa menjadi lumbung jagung baru di Sumatera Utara.