Rupiah Melemah ke Rp17.500, Harga CPO Domestik di Belawan dan Dumai Anjlok Rp175/kg pada Selasa Ini

Penulis: Ragil  •  Rabu, 13 Mei 2026 | 11:04:53 WIB
Rupiah melemah ke level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa (12/5).

JAKARTAHarga minyak sawit mentah di pasar domestik terperosok di tengah badai pelemahan rupiah. Dalam perdagangan tender yang digelar PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO (tidak termasuk PPN) untuk penyerahan Franco Belawan dan Dumai tercatat Rp15.150 per kilogram pada Selasa (12/5). Angka ini lebih rendah Rp175/kg dibandingkan perdagangan Senin kemarin yang masih bertengger di Rp15.325 per kilogram.

Penurunan harga komoditas utama ini terjadi berbarengan dengan tekanan berat pada nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat, rupiah tertekan hingga ke level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

Dua Sumber Tekanan yang Menggerus Rupiah dan Sawit

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa anjloknya nilai tukar rupiah dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama yang mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global.

“Meningkatnya intensitas konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak dan ketidakpastian global, yang berdampak langsung pada tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” ujar Destry dalam pernyataan tertulisnya.

Sementara dari dalam negeri, tekanan rupiah diperparah oleh lonjakan permintaan valuta asing secara musiman. BI mencatat adanya peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen, serta pemenuhan dana untuk ibadah haji.

Bursa Malaysia Ikut Tertekan, Permintaan Fisik Masih Menggantung

Tekanan harga CPO tidak hanya terjadi di dalam negeri. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO pengiriman Juli langsung turun 20 ringgit atau 0,44% menjadi 4.496 ringgit per ton pada awal perdagangan Selasa ini.

Interband Group of Companies, Jim Teh, memperkirakan harga CPO akan berkisar antara RM4.200 hingga RM4.300. Namun, ia melihat adanya potensi permintaan fisik dari sejumlah negara.

“Permintaan fisik untuk komoditas ini diperkirakan akan datang dari China, Pakistan, India, dan mungkin beberapa negara di Timur Tengah untuk melakukan peningkatan stok di tengah krisis Asia Barat,” katanya kepada Bernama.

Belum ada pernyataan resmi dari asosiasi petani sawit atau pelaku industri terkait langkah antisipasi yang akan diambil menyusul penurunan harga ini. Para pelaku pasar masih menunggu perkembangan nilai tukar rupiah dan situasi geopolitik global dalam beberapa hari ke depan.

Reporter: Ragil
Sumber: sawitindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top