TEBING TINGGI — Banjir yang melanda Kota Tebing Tinggi memaksa ribuan warga bertahan di tengah genangan. Data Pusdalops PB Sumut yang diterima di Medan mencatat empat kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Rambutan, Padang Hulu, Bajenis, dan Tebing Tinggi Kota.
Total 1.051 kepala keluarga (KK) terdampak, dan sebanyak 966 rumah terendam air. Dua sekolah dasar negeri, satu puskesmas pembantu, satu pasar, dan satu mushalla juga ikut terendam.
Kecamatan Tebing Tinggi Kota menjadi wilayah dengan dampak terluas. Sebanyak 442 KK di Kelurahan Bandar Utama, 84 KK di Kelurahan Badak Bejuang, dan 20 KK di Kelurahan Tebing Tinggi Lama harus merasakan banjir.
Di Kecamatan Bajenis, genangan merendam lima kelurahan. Kelurahan Bulian menjadi yang terparah dengan 182 KK dan 178 rumah terdampak. Disusul Kelurahan Berehol (76 KK, 71 rumah), Kelurahan Bandar Sakti (46 KK, 40 rumah), Kelurahan Pinang Mancung (2 KK, 14 rumah), dan Kelurahan Teluk Karang (1 KK, 14 rumah).
Sementara itu, Kecamatan Rambutan mencatat 117 KK dan 103 rumah terdampak di Kelurahan Seri Padang Lingkungan I dan II. Kecamatan Padang Hulu mencatat 69 KK terdampak yang tersebar di Kelurahan Pabatu dan Lubuk Batu.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati memastikan tidak ada korban luka maupun meninggal dunia dalam peristiwa ini. "Berdasarkan laporan korban luka maupun korban meninggal dunia dan pengungsi nihil," ujar Yuyun, sapaan akrabnya.
Meski begitu, ia menyebut berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh pemerintah setempat dan pemangku kebijakan terkait. BPBD Sumut juga terus berkoordinasi untuk mempercepat penanganan di lokasi terdampak. "Kondisi terkini masih dalam penanganan pihak terkait," katanya.
Banjir di Tebing Tinggi ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan perkotaan terhadap cuaca ekstrem. Data Pusdalops menunjukkan betapa cepat air bisa merendam pemukiman padat penduduk di empat kecamatan sekaligus.