MEDAN — Ibu Erni (40) harus merogoh kocek lebih dalam untuk stok cabai di lapaknya di Pajak Petisah. Pedagang sayuran ini mengaku harga jual cabai saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, lonjakan harga ini bukan tanpa sebab. Hasil panen petani disebut mulai berkurang, sehingga pasokan ke pasar ikut tersendat.
“Kalau hasil panen sedikit, otomatis pasokan ke pasar juga berkurang, jadi harga naik,” ujar Ibu Erni saat ditemui di lapaknya, Jumat pagi.
Ia menjelaskan bahwa cuaca yang tidak menentu belakangan ini menjadi faktor utama penurunan produktivitas petani. Kondisi ini diperparah dengan biaya distribusi yang ikut merangkak naik, membuat harga di tingkat konsumen semakin membengkak.
Selain faktor produksi, Ibu Erni menyoroti dampak hari besar seperti Idul Fitri dan Tahun Baru. Permintaan masyarakat yang melonjak drastis tidak diimbangi dengan stok yang memadai di pasaran.
“Biasanya kalau mendekati hari besar, permintaan meningkat. Pedagang juga menyesuaikan harga karena stok terbatas,” jelasnya.
Distribusi yang tidak merata antar daerah juga dinilai memperparah kelangkaan di Pajak Petisah. Akibatnya, harga jual di lapak-lapak terus bergerak naik.
Dampak kenaikan ini sudah terasa langsung di kantong pembeli. Ibu Erni menuturkan bahwa beberapa pelanggan setianya mulai mengurangi jumlah cabai yang dibeli karena harganya yang terus merangkak.
“Semoga ke depan harga tidak terus naik supaya pembeli tetap ramai,” harapnya.
Kenaikan harga cabai menjadi perhatian serius karena komoditas ini merupakan kebutuhan pokok masyarakat Sumatera Utara. Stabilitas pasokan dinilai menjadi kunci utama agar harga tetap terkendali. Selain faktor cuaca dan distribusi, biaya produksi di tingkat petani juga ikut memengaruhi fluktuasi harga di berbagai daerah.
Para pelaku pasar berharap pemerintah daerah dapat turun tangan untuk menjaga ketersediaan stok, agar lonjakan harga tidak berlarut-larut dan merugikan konsumen.