MEDAN — Nur Liyah (58) sudah delapan tahun berjualan daging ayam dan ikan di Pasar Flamboyan Raya, Kecamatan Medan Kota. Dalam sebulan terakhir, ia mengaku dagangannya tak lagi laku seperti biasa. “Sekarang sudah sunyi kali, karena harganya mahal,” ujarnya kepada okemedan, baru-baru ini.
Sebelum program MBG berjalan, harga daging ayam berkisar antara Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Setelah Lebaran, harga melonjak hingga Rp 48 ribu per kilogram. Kenaikan serupa juga terjadi pada ikan dencis, dari Rp 30 ribu menjadi Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram.
Nur Liyah menduga pasokan bahan pangan di tingkat pedagang kecil berkurang karena sebagian besar stok dialihkan untuk memenuhi kebutuhan program MBG. “Stok daging jadi susah dicari karena semua diambil untuk MBG ini,” katanya.
Meski program MBG dinilai memiliki potensi besar menyerap produk pasar tradisional, Nur Liyah mengaku tak pernah dilibatkan dalam rantai pasok. “Sebenarnya kalau kami dilibatkan sangat membantu. Tapi mereka pasti ambil dari tempat yang lebih besar dan lebih murah,” jelasnya.
Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi skema distribusi agar pedagang kecil tidak terus terpinggirkan. “Kalau pun tetap ada, setidak-tidaknya mereka membeli dari kami juga,” tutupnya.
Sebagai orang tua yang anaknya menerima program MBG, Nur Liyah juga menyoroti kualitas makanan. Ia kerap mendapati makanan dalam kondisi kurang layak konsumsi. “Sering kali basi atau rasanya aneh, jadi tetap ibu masakkan bekal,” ungkapnya.
Meski mengakui tujuan program MBG baik, ia menekankan perlunya perbaikan, terutama dalam distribusi bahan pangan dan pengawasan kualitas. Dampak ekonomi pun dirasakan langsung oleh keluarganya karena pendapatan dari berdagang menurun drastis.