PEMATANG SIMALUNGUN — Pemerintah Kabupaten Simalungun melalui Tim Penggerak PKK memperketat validasi data anak berkebutuhan khusus (ABK) di tingkat desa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh anak "istimewa" di wilayah tersebut mendapatkan pendampingan medis maupun sosial tanpa ada yang terabaikan.
Ketua TP PKK Simalungun, Ny. Hj Darmawati Anton Achmad Saragih, menyatakan bahwa momentum Hari Posyandu Nasional harus menjadi titik balik penguatan layanan inklusif. Menurutnya, Posyandu kini tidak hanya fokus pada balita umum, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mendeteksi anak-anak yang membutuhkan penanganan khusus.
“Hebat artinya tidak ada satu anak pun yang tertinggal, termasuk anak-anak istimewa kita yang membutuhkan terapi di RRABK ini,” tegas Darmawati di hadapan puluhan orang tua di Nagori Pematang Simalungun, Kecamatan Siantar.
Dalam kunjungan tersebut, TP PKK memperkenalkan instrumen "Tiga Kilas ABK" sebagai pedoman kerja bagi kader Posyandu dan Dasawisma di lapangan. Panduan ini dirancang untuk memangkas birokrasi pelaporan kondisi anak dari tingkat dusun hingga ke pusat layanan terapi.
Tiga poin utama dalam panduan tersebut meliputi deteksi dini perkembangan anak, pelaporan data akurat melalui formulir Dasawisma dan aplikasi SIPKK, serta mekanisme rujukan ke RRABK. Darmawati menekankan bahwa akurasi data dari bawah sangat menentukan distribusi bantuan dari pemerintah daerah.
“Validasi data yang tepat sangat penting agar bantuan pemerintah, seperti alat bantu dan anggaran terapi, dapat tersalurkan secara tepat sasaran,” tambahnya.
Ketua Yayasan RRABK, Erlina Srihawani Sinaga, mengungkapkan bahwa saat ini lembaga yang dipimpinnya membina sekitar 500 anak berkebutuhan khusus. Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah pengembangan kreativitas dan kemandirian anak-anak tersebut agar bisa beradaptasi di tengah masyarakat.
“Kami berharap ke depan semakin banyak perhatian dan program pemerintah untuk membantu pengembangan kreativitas dan kemandirian anak-anak disabilitas,” ujar Erlina.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 57 anak disabilitas hadir mengikuti rangkaian terapi dan pemberian motivasi. Darmawati juga meminta para orang tua untuk lebih terbuka terhadap kondisi anak mereka guna mempermudah intervensi medis sejak dini.
“Jangan malu, jangan sembunyi. Anak istimewa adalah titipan Tuhan yang harus kita muliakan bersama,” pesannya kepada para orang tua yang hadir.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Dinas Sosial Kabupaten Simalungun menyerahkan sejumlah bantuan peralatan medis untuk menunjang operasional RRABK. Bantuan tersebut mencakup alat timbang badan digital, alat pengukur tensi, serta paket sembako bagi keluarga binaan.
Kunjungan kerja ini juga dihadiri oleh sejumlah pejabat teras Pemkab Simalungun, di antaranya Kepala Dinas Sosial Osnidar Marpaung, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Eva Tambunan, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Simalungun Ny. Yulince Mixnon Andreas Simamora.
Sinergi lintas sektoral ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendukung bagi anak-anak disabilitas di Simalungun, mulai dari aspek kesehatan di Posyandu hingga jaminan sosial dari dinas terkait.