BATUBARA — Masyarakat petani di wilayah Pematang Jernang, Desa Perupuk, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batubara, menaruh harapan besar kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution. Mereka mendesak pemerintah segera memperbaiki akses jalan utama yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan warga setempat.
Jalan tersebut merupakan jalur vital untuk mengangkut hasil panen, akses menuju sekolah, hingga pelayanan kesehatan. Kondisinya yang rusak parah dinilai sangat kontras dengan semangat pembangunan infrastruktur yang tengah digalakkan di wilayah Sumatera Utara lainnya pada tahun ini.
Kondisi jalan di Pematang Jernang kian memprihatinkan, terutama saat cuaca ekstrem melanda. Ketika musim hujan tiba, badan jalan berubah menjadi kubangan lumpur tebal yang sulit ditembus kendaraan bermotor. Sebaliknya, debu pekat beterbangan saat musim kemarau dan mengganggu pernapasan warga.
Ujok, salah seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa kerusakan ini telah berlangsung cukup lama tanpa ada solusi konkret dari pihak terkait. Para petani sering kali merugi karena keterlambatan distribusi hasil bumi ke pasar akibat medan jalan yang berat dan berisiko.
“Kami sangat berharap kepada Pak Gubernur Bobby Nasution agar bisa melihat kondisi jalan kami ini. Jalan ini adalah jalan hidup masyarakat. Petani sulit membawa hasil panen, anak-anak juga susah pergi ke sekolah. Kalau hujan turun, jalan hampir tidak bisa dilewati,” ungkap Ujok.
Harapan warga Pematang Jernang menguat setelah melihat komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam memperbaiki sejumlah ruas jalan strategis. Salah satunya adalah proyek ruas Aek Nabara–Negeri Lama–Tanjung Sarang yang dijadwalkan rampung tahun ini dengan total anggaran mencapai Rp158 miliar.
Masyarakat di Desa Perupuk menginginkan perhatian serupa agar keadilan pembangunan dapat dirasakan hingga ke pelosok desa. Bagi mereka, jalan pertanian bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan simbol harapan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga petani yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
Di beberapa titik, lubang-lubang besar yang menganga menjadi pemandangan sehari-hari yang membahayakan pengguna jalan. Anak-anak sekolah pun harus berjuang ekstra melewati jalan berlumpur demi mendapatkan pendidikan yang layak setiap harinya.
Perbaikan jalan diyakini akan memberikan dampak berganda bagi kesejahteraan masyarakat Batubara. Distribusi hasil pertanian yang lancar dipastikan bakal menekan biaya angkut logistik yang selama ini membebani para petani kecil di wilayah Lima Puluh Pesisir tersebut.
Selain faktor ekonomi, akses kesehatan menjadi poin krusial yang terdampak oleh kerusakan jalan. Warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat sering kali terkendala waktu tempuh yang lama akibat kondisi jalan yang tidak memadai untuk kendaraan roda empat.
Masyarakat kini menunggu langkah nyata dari pemerintah provinsi untuk meninjau langsung lokasi. Mereka berharap janji pemerataan infrastruktur tidak berhenti di jalan-jalan protokol, tetapi juga menyentuh jalan produksi di pedesaan yang menopang ketahanan pangan daerah.