Pencarian

Trump Tunda Sanksi Rusia 60 Hari demi Pasokan Solar, Kongres Protes

Minggu, 18 Oktober 2026 • 13:19:01 WIB
Trump Tunda Sanksi Rusia 60 Hari demi Pasokan Solar, Kongres Protes
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan sanksi terhadap Rusia selama 60 hari untuk menekan lonjakan harga bahan bakar minyak dan solar.

SUMATERA UTARA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump membebaskan Rusia dari sanksi dan tarif ekonomi luas selama 60 hari untuk menekan lonjakan harga bahan bakar minyak dan solar. Penundaan yang diumumkan dua hari sebelum undang-undang sanksi berlaku efektif itu menuai kritik dari Kongres dan sekutu internasional.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan penundaan pembatasan ekonomi diambil saat harga energi global bergejolak akibat eskalasi konflik di sejumlah wilayah, termasuk perang AS dengan Iran. Menurut Rubio, berbagai konflik itu mulai bertabrakan dan dampaknya terasa langsung pada lonjakan harga minyak dan solar.

"Presiden ingin memanfaatkan periode 60 hari ini untuk menganalisis apa arti penerapan sanksi dan tarif tersebut bagi perekonomian global, bahkan bagi perekonomian AS," ujar Rubio dalam keterangan resmi, Sabtu (17/10).

Sanksi yang Seharusnya Berlaku Pekan Ini

Paket sanksi yang ditunda menyasar pejabat tinggi Rusia, oligarki, hingga lembaga keuangan. Aturan itu juga memberi wewenang bagi Washington untuk menindak pembeli utama minyak dan gas Rusia.

Kebijakan awal dirancang Kongres AS untuk memotong modal Presiden Rusia Vladimir Putin dalam mendanai perang di Ukraina. Trump membatalkannya tepat dua hari sebelum undang-undang tersebut efektif berjalan, setelah mencapai kesepakatan impor solar dengan Kremlin.

Alasan di Balik Keputusan: Harga Solar dan Pemilu

Rubio membela transaksi solar dengan Rusia. Menurutnya, pasokan tersebut akan tetap masuk ke pasar global sehingga AS memilih ikut mengambil bagiannya.

"Solar yang akan dijual Putin itu, mereka akan menyediakannya ke pasar global dengan satu atau lain cara. Satu-satunya perbedaan adalah seberapa banyak yang akan diperoleh Amerika Serikat," tambah Rubio.

Langkah penundaan diambil menyusul kekhawatiran masyarakat AS atas tingginya biaya hidup dan lonjakan harga solar. Bahan bakar itu vital karena menggerakkan sektor angkutan darat, pertanian, hingga konstruksi. Tekanan ekonomi menjadi isu krusial bagi kubu Partai Republik jelang pemilu bulan depan.

Trump menegaskan keputusan penundaan sanksi merupakan langkah terbaik untuk kepentingan nasional maupun situasi global.

"Kita akan menemukannya, dan kalian juga akan menemukannya. Ini keputusan yang sangat baik, dan ini akan menjadi keputusan yang baik bagi negara, serta menurut saya baik bagi dunia," kata Trump.

Kecaman dari Senat dan Zelensky

Gelombang kritik datang dari internal Kongres AS maupun sekutu luar negeri. Senator Republik Thom Tillis menilai Trump salah menetapkan prioritas penyelesaian krisis energi.

"Lebih dari sekadar tidak bertanggung jawab. Jika Presiden benar-benar ingin menurunkan harga energi, ia bisa melakukannya dengan menyelesaikan masalah Iran, bukan dengan membantu Vladimir Putin," tegas Tillis.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai langkah Washington justru memberi imbalan bagi agresi militer Putin. Ia khawatir penundaan sanksi bakal meluas ke kebijakan berikutnya.

Apa Artinya bagi Pasar Energi

Bagi pelaku pasar, keputusan Trump menghadirkan dua sinyal berlawanan. Di satu sisi, tambahan pasokan solar Rusia ke pasar global dapat menahan laju kenaikan harga minyak dalam jangka pendek. Di sisi lain, ketidakpastian arah sanksi setelah 60 hari membuat pelaku usaha energi sulit menyusun kontrak jangka panjang.

Sejumlah analis komoditas memperkirakan volatilitas harga minyak tetap tinggi selama periode penundaan, terutama jika konflik AS-Iran berlanjut. Bagi importir energi di Asia, termasuk Indonesia, pembukaan keran pasokan Rusia bisa menjadi opsi diversifikasi — dengan catatan risiko sanksi sekunder jika Washington mengembalikan pembatasan setelah periode evaluasi berakhir.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks