MEDAN — Sebanyak 800 peserta hadir langsung menyerap ilmu dari total 6.000 pelaku UMKM yang menjadi sasaran pelatihan. Kegiatan ini menyasar pengusaha perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian keluarga di Kota Medan.
Di hadapan ratusan srikandi ekonomi tersebut, Rico Waas menggarisbawahi sejumlah poin agar UMKM Medan mampu menembus pasar lebih luas. Salah satunya kualitas rasa dan tampilan visual yang memikat.
Menurut Rico, produk UMKM dari 21 kecamatan di Kota Medan memiliki rasa yang sudah teruji enak dan dapat bersaing. Namun, itu saja tidak cukup. Ia mengingatkan pentingnya estetika kemasan.
"Orang jualan itu kadang-kadang kelihatan visualnya dulu. Orang tertarik dan berkeinginan membeli diawali dari visualnya," ujar Rico sembari memamerkan contoh produk sumpia UMKM yang kini tampil ciamik di Mal Pelayanan Publik (MPP).
Konsistensi Produksi Jadi Kunci Sebelum Bidik Pasar Nasional
Poin berikutnya yang ditekankan Rico adalah menjaga konsistensi dan kelancaran produksi. Sebelum membidik pasar internasional atau skala nasional, kestabilan produksi di tingkat lokal harus ditata rapat-rapat.
"Pemahaman permodalan, penetapan target pasar, dan karakter produk yang kreatif menjadi kunci utama agar UMKM memiliki niche market sendiri," sambungnya.
Ia juga mendorong pelaku UMKM lokal untuk aktif menjemput bola perizinan seperti Nomor Induk Berusaha (NIB) hingga Sertifikasi Halal.
Dinas Koperasi Diminta Jemput Bola Data Pelaku Usaha Belum Berizin
Rico memerintahkan Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan untuk bertindak aktif mendata pelaku usaha yang belum mengantongi PIRT, BPOM, NIB, maupun Sertifikasi Halal.
"Pendampingan harus dilakukan secara personal karena tiap UMKM memiliki dinamika masalah yang berbeda," tegasnya.
Smartphone dan Media Sosial Jadi Mesin Pencetak Omzet
Langkah terakhir yang disorot Rico adalah optimalisasi smartphone dan media sosial. Ia mendorong para pengusaha perempuan mengubah ponsel pintar di genggaman menjadi mesin pencetak omzet.
Pemanfaatan WhatsApp, Facebook, Instagram, hingga TikTok disebutnya sebagai kanal yang bisa langsung mendongkrak penjualan. Pelaku UMKM tidak perlu menunggu modal besar untuk mulai berjualan secara digital.
Menutup pengarahannya, Rico memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.
"Saya berharap melalui pelatihan ini menjadi pijakan nyata agar produk-produk UMKM Kota Medan semakin diminati, laris manis, dan mampu bersaing di papan atas," harapnya.
Program Financial Inclusion for Women Entrepreneur sendiri menyasar 6.000 pelaku UMKM di Medan. Dari jumlah itu, 800 peserta hadir langsung di Grand Ballroom Universitas Prima Indonesia untuk menyerap materi pelatihan.