MEDAN — Penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya terjadi di tengah tekanan yang menimpa sebagian besar mata uang Asia. Won Korea Selatan mencatat pelemahan paling dalam, turun 1 persen terhadap dolar AS, sementara yuan China melemah 0,12 persen dan ringgit Malaysia turun 0,08 persen.
Peso Filipina menjadi satu-satunya mata uang regional yang sejalan dengan rupiah, mencatat penguatan 0,12 persen. Dolar Hong Kong bergerak stagnan, sedangkan dolar Taiwan melemah tipis 0,01 persen.
Intervensi Bank Indonesia Disebut Jadi Pendorong Utama
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah terjadi setelah mata uang Garuda mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Menurut dia, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia relatif sesuai dengan ekspektasi pasar.
"Penguatan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh langkah intervensi Bank Indonesia," kata Lukman.
Selain intervensi, lanjut dia, terjadi aksi unwinding posisi dolar AS setelah pasar menerapkan strategi buy the rumor, sell the fact. Sebagian pelaku pasar melakukan penyesuaian posisi karena keputusan kebijakan moneter BI sudah sesuai perkiraan sebelumnya.
Data Ekonomi Sepi, Pasar Beralih ke Isu Geopolitik
Tidak banyak rilis data ekonomi penting yang dijadwalkan sepanjang pekan ini. Kondisi itu membuat perhatian investor beralih ke perkembangan geopolitik dan hubungan perdagangan global.
Lukman menyebut investor akan mencermati hasil perundingan Amerika Serikat dan Iran, termasuk potensi dampaknya terhadap kondisi geopolitik dan pasar keuangan global.
Perkembangan kedua isu tersebut berpotensi memengaruhi sentimen terhadap dolar AS sekaligus pergerakan mata uang regional, termasuk rupiah. Pergerakan hari ini diproyeksikan tetap berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.850 per dolar AS.