SUMATERA UTARA — Bunda, pernahkah merasa Si Kecil bergerak terus-menerus dan bertanya-tanya apakah itu normal? Justru itulah cara belajarnya. Montessori & Parent Educator, Rossa Akhirunnisa, menjelaskan bahwa di usia 0-12 bulan, bayi belajar melalui gerakan dan eksplorasi aktif, bukan dengan membaca atau mendengar ceramah.
"Kalau kita yang orang dewasa, harus lihat buku. Tapi kalau mereka dengan bergerak," ungkapnya dalam acara KC Softex - "Sweety Siap Tandang Tanding", Senin (31/8/2026).
Lantas, apa saja yang terjadi pada tubuh dan otak Si Kecil di periode emas ini? Berikut tahapan penting dan cara orang tua mendukungnya.
Belajar Mengenal Dunia Lewat Gerakan Tubuh
Di usia ini, kemampuan motorik kasar bayi berkembang pesat. Bunda akan melihat Si Kecil mulai mengontrol tubuhnya, menjaga keseimbangan, hingga mengoordinasikan gerakan. Proses ini terlihat jelas saat ia melakukan tummy time, berguling, merangkak, menarik tubuh untuk berdiri, sampai berjalan sambil berpegangan.
"Kalau mereka bergerak, itu artinya berkenalan dengan dunia sekitarnya," kata Rossa.
Setiap gerakan yang tampak "aktif" itu sebenarnya adalah eksplorasi sensorimotor. Saat meraih, memegang, atau memindahkan benda, bayi sedang belajar mengenali tubuhnya sendiri, ruang di sekitarnya, tekstur benda, jarak, sekaligus memahami hubungan sebab-akibat. Ia sedang membangun fondasi kognitifnya lewat pengalaman langsung.
Mengapa Rasa Aman Adalah Kunci Eksplorasi Bayi?
Selain kemampuan fisik, ada satu hal krusial yang sering terlewat: rasa aman secara emosional. Karena kemampuan regulasi emosi bayi belum matang, ia sangat bergantung pada kehadiran orang tua sebagai secure base—tempat yang aman untuk kembali setelah mencoba hal baru.
"Kehadiran orang tua yang responsif, peka terhadap sinyal bayi, dan memberikan rasa aman sangat penting," jelas Rossa.
Ketika Bunda hadir dan responsif, Si Kecil akan merasa cukup aman untuk menjelajah dan mencoba berbagai hal sesuai kemampuannya. Rasa aman ini adalah fondasi kepercayaan dirinya di kemudian hari.
3 Cara Praktis Mendukung Perkembangan Bayi 0-12 Bulan
Memahami tahapannya saja tidak cukup. Berikut tiga langkah konkret yang bisa Bunda terapkan di rumah sehari-hari.
1. Siapkan "Area Bermain" yang Aman untuk Dieksplorasi
Daripada terus berkata "jangan" saat Si Kecil bergerak, lebih baik siapkan lingkungan yang mendukung eksplorasinya. Pastikan area bermainnya aman, tempat tidurnya (crib) memiliki pengaman jika ia sedang belajar duduk atau berdiri, dan jauhkan benda-benda berbahaya dari jangkauannya.
Konsep ini dikenal sebagai prepared environment dalam pendekatan Montessori. Tujuannya sederhana: membiarkan anak belajar dari lingkungannya tanpa perlu banyak larangan.
2. Peka dan Responsif Terhadap Isyarat (Cues) Si Kecil
Bayi 0-12 bulan berkomunikasi terutama melalui tangisan. Karena belum bisa berkata-kata, Bunda perlu jeli membaca sinyal yang ia berikan—apakah ia lapar, lelah, popoknya penuh, atau hanya butuh digendong.
Berikan respons yang hangat dan konsisten. Hindari melabeli bayi yang sering menangis sebagai "cengeng". Respons yang tepat justru membuatnya merasa dipahami dan aman, yang sangat penting untuk perkembangan emosinya.
3. Biarkan Si Kecil Menggerakkan Tubuhnya Sendiri
Bunda, tidak perlu terburu-buru membantu atau mengarahkan setiap gerakan bayi. Berikan ia kesempatan untuk mencoba dan mengulangi gerakannya sendiri, misalnya saat belajar meraih mainan atau berguling.
"Berikan kesempatan bayi mencoba dan mengulangi gerakan sendiri, tanpa terburu-buru memposisikan atau mengarahkan setiap gerakannya," pesan Rossa.
Kesabaran ini mengajarkan Si Kecil ketekunan dan kemandirian sejak dini. Ia belajar bahwa ia mampu melakukan sesuatu dengan usahanya sendiri.
Tumbuh kembang di tahun pertama adalah perjalanan yang unik untuk setiap bayi. Dengan memahami tahapannya dan memberikan dukungan yang tepat—lingkungan aman, respons hangat, dan kebebasan bergerak—Bunda telah memberikan fondasi terbaik untuk masa depannya.