SUMATERA UTARA — Hasilnya masih berupa proof of concept. Meski begitu, eksperimen ini membuktikan bahwa hardware Galaxy Z Fold8 sebenarnya sudah memiliki komponen yang dibutuhkan untuk menghadirkan efek visual semacam itu.
Eksperimen ini tidak sekadar menempelkan animasi biasa pada antarmuka. Pengguna tersebut membuat aplikasi khusus yang bertugas membaca nilai dari sensor engsel perangkat secara real-time.
Data sensor itu kemudian dipadukan dengan Presentation API. Tujuannya agar aplikasi bisa merespons posisi engsel dan mengubah tampilan secara langsung, mengikuti proses membuka dan menutup perangkat.
Pendekatan ini yang membuat transisi terasa lebih natural. Perpindahan layar tidak dipicu oleh perintah sentuh, melainkan oleh gerakan fisik engsel yang terbaca oleh sistem.
Ada batasan yang membuat eksperimen ini belum bisa langsung dipakai sehari-hari. Pembuat eksperimen menyebut Samsung belum memberikan akses yang diperlukan bagi aplikasi pihak ketiga untuk menghadirkan animasi seperti ini secara sistem-wide.
Artinya, pengguna memang bisa membuktikan konsepnya. Tetapi mereka belum bisa membuat seluruh antarmuka Galaxy Z Fold8 bekerja seperti iPhone Duo.
Untuk saat ini, efek tersebut hanya berjalan di dalam aplikasi buatan sendiri. Tidak bisa diterapkan ke seluruh sistem operasi atau aplikasi lain secara bebas.
Eksperimen ini justru membuka kemungkinan menarik untuk generasi foldable Samsung selanjutnya. Jika hardware-nya sudah mampu membaca pergerakan engsel dengan cukup detail, Samsung hanya perlu menyediakan dukungan software yang tepat.
Dukungan itu bisa berupa API resmi yang memberi aplikasi pihak ketiga akses ke data sensor engsel. Dengan begitu, transisi serupa bisa dihadirkan secara resmi dan sistem-wide.
Animasi transisi iPhone Duo yang terlihat eksklusif di perangkat lipat Apple mungkin tidak butuh waktu lama sebelum menjadi fitur umum di foldable lain. Yang dibutuhkan bukan lagi hardware baru, melainkan keputusan software dari pihak Samsung.