SUMATERA UTARA — Grado SR325 saya ulas selama beberapa hari sebagai pendamping harian, diputar langsung dari laptop dan lewat DAC FiiO K11 R2R untuk memastikan potensi suaranya keluar maksimal. Skenarionya sederhana: streaming album favorit, fokus ke detail vokal dan instrumen, sambil menilai apakah harga selangit itu sepadan dengan apa yang ditawarkan.
Karakter suara Grado SR325 yang paling menonjol adalah reproduksi vokalnya. Saya memutar The Last Man On Earth dari Wolf Alice, dan setiap tarikan napas penyanyi terdengar eksplisit — detail yang jarang muncul di headphone segini.
Driver 44mm dynamic-nya punya tuning yang hangat dan cenderung analog. Bass memang tidak menghajar, ia hadir sebagai fondasi yang disiplin, tidak pernah berantakan saat track dipenuhi lapisan instrumen. Coba dengarkan Music On The Radio dari Empire Of The Sun: alih-alih dentuman, kamu akan mendapat tekstur bass yang rapi dan membiarkan vokal tetap di depan.
Namun ada catatan. Saat memutar Birds dari Turnstile, hi-hat dan distorsi gitar aktif bersamaan, muncul sedikit fuzziness di frekuensi atas. Headphone ini lebih menikmati lagu akustik atau mellow ketimbang trek dengan aransemen padat dan keras.
Secara visual, Grado SR325 tampil memikat — aksen aluminium hitam, headband faux leather, dan nuansa vintage yang jelas. Tapi kesan kokoh itu sirna begitu dipakai. Bantalan earcup on-ear-nya dilapisi foam tipis yang terasa murah dan sedikit gatal, mengingatkan pada headphone entry-level sekelas Gadhouse Wesley seharga $69. Lumayan mengecewakan untuk produk di kelas Rp 5 jutaan.
Bobotnya 14 ons atau sekitar 397 gram — tidak berat sebenarnya. Sayangnya distribusi tekanan tidak merata: headband-nya tipis, hanya sedikit padding, sehingga puncak kepala mulai terasa perih setelah 45 menit pemakaian. Ini bukan headphone untuk maraton mendengarkan berjam-jam.
Kabel bawaan sudah terintegrasi di kedua earcup dan menyatu menjadi satu kabel dengan jack 3,5mm plus adaptor 6,3mm. Fleksibel untuk dipasang ke DAC desktop maupun pemutar portabel. Yang menarik, SR325 tidak terlalu sulit di-drive — laptop atau smartphone pun sanggup, tapi perbedaannya terasa jelas saat disambungkan ke DAC.
Saya menguji dengan FiiO K11 R2R, sementara rekan lain mencobanya bersama iFi hip-dac 3 dan FiiO K15. Tanpa amplifier yang baik, suara terdengar datar dan kurang bernyawa; dengan DAC yang layak, panggung suaranya terbuka dan detailnya jauh lebih hidup. Jadi anggarkan tambahan untuk sumber audio yang mumpuni jika serius mempertimbangkan headphone ini.
Di harga yang sama, pilihan lain menawarkan kenyamanan yang jauh lebih baik. Meze 99 Classics Gen 2 ($349) punya desain over-ear dengan headband ringan, cocok dipakai berjam-jam. FiiO FT13 ($329) memberikan suara kaya dan pemisahan instrumen yang rapi. Atau yang paling menarik: Meze Audio 105 AER di $299, dengan suara hangat, kejernihan kelas atas, dan kenyamanan yang tidak bisa ditandingi Grado.
Dari segi sosial, perlu diingat headphone ini open-back — suara akan bocor ke sekitar, dan suara sekitar ikut masuk. Bukan pilihan ideal untuk kantor atau transportasi umum.
Kualitas suara Grado SR325 adalah daya tarik utamanya — analitis, detail, dan menyenangkan untuk genre akustik, jazz, dan musik vokal. Tapi kenyamanan bukan keunggulannya. Jika kamu tipe pendengar yang betah berjam-jam dan tidak mau kompromi dengan kenyamanan, ada banyak alternatif lebih masuk akal di kelas harga ini. SR325 lebih cocok bagi audiophile yang rela berkompromi dengan kenyamanan demi mendapatkan signature suara Grado yang unik, atau kamu yang memiliki sesi mendengarkan singkat tapi intens.
Jangan buru-buru membeli — pertimbangkan dulu apakah telingamu sanggup akur dengan bantalannya. Untuk Rp 5,6 jutaan, suara sehebat apa pun tidak akan dinikmati kalau telinga sudah menjerit setelah 45 menit.