SUMATERA UTARA — Kecelakaan terjadi sekitar pukul 04.40 WIB. Mitsubishi Pajero Sport melaju di lajur 1 dari arah Bogor menuju Jakarta, lalu menabrak bagian belakang truk pengangkut semen. Dampaknya, kap mobil ringsek, kaca pecah, dan bagian depan bodi hancur. Polisi memastikan tidak ada korban jiwa, dan kendaraan akhirnya berada di lajur satu dengan posisi normal menghadap utara.
Peristiwa ini bukan soal apakah Pajero Sport punya fitur keselamatan yang mumpuni atau tidak. Ini soal jam biologis tubuh yang tidak bisa dibohongi.
Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengingatkan bahwa kecelakaan di dini hari punya potensi bahaya yang jauh lebih besar dibanding siang hari. Menurutnya, pukul 04.40 WIB adalah waktu tidur sesuai ritme biologis tubuh manusia.
"Kalau kita melakukan satu aktivitas fisik saat dini hari itu adalah jam waktu tidur sesuai dengan jam biologis tubuh manusia," ujar Jusri.
Dalam kondisi mengantuk, kecepatan motorik pengemudi dalam menyikapi bahaya di jalan raya melambat drastis. Respons terhadap rem mendadak truk di depan, yang biasanya butuh waktu kurang dari satu detik, bisa berlipat ganda—dan pada kecepatan tol, perbedaan itu berarti puluhan meter jarak yang hilang.
Pajero Sport di generasi terbaru dibekali berbagai teknologi seperti Forward Collision Mitigation (FCM) dan Adaptive Cruise Control (ACC). Sistem ini dirancang untuk mendeteksi objek di depan dan mengurangi tabrakan. Namun, sistem ini bekerja berdasarkan sensor dan kamera—ia tidak bisa menggantikan kesadaran penuh pengemudi.
Jika pengemudi sudah tertidur atau dalam kondisi microsleep, sistem mungkin masih bisa aktif, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan, kondisi pencahayaan, dan posisi kendaraan. Kecelakaan ini menunjukkan bahwa mengandalkan teknologi sebagai "jaring pengaman" adalah kekeliruan besar.
Jusri menegaskan tidak ada zat apa pun—kopi, minuman energi, atau musik keras—yang bisa menggantikan efek restoratif tidur. "Sangat klasik sekali, kalau ada tanda-tanda fatigue atau letih atau ngantuk, itu segera cari tempat istirahat. Atau, menunda perjalanan kalau belum memulai perjalanan," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa jalan raya adalah area yang tidak aman. Jika sudah merasa lelah, pengemudi wajib berhenti di tempat yang aman, bukan di bahu jalan.
Kecelakaan ini menegaskan bahwa mobil sebesar dan sekuat apapun tidak akan melindungi pengemudi yang mengabaikan kondisi tubuhnya. Pajero Sport memang punya struktur bodi yang kokoh—terbukti dari foto yang beredar, kabin tidak mengalami deformasi parah dan tidak ada korban jiwa. Namun, kerusakan parah di bagian depan adalah bukti energi tabrakan yang sangat besar.
Bagi siapa pun yang berencana melakukan perjalanan jauh, terutama di malam hari atau dini hari, pertimbangkan untuk berganti moda transportasi atau berbagi tugas mengemudi dengan orang lain. "Intinya dia tidak boleh mengemudi saat dia letih," pungkas Jusri.
Mobil bisa diperbaiki, tapi nyawa tidak. Itu pelajaran termahal dari insiden di Tol Jagorawi kali ini.