MEDAN — Ketua SMSI Sumut Erris Julietta Napitupulu menilai penelitian ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan keterampilan wartawan melalui implementasi Search Engine Optimization (SEO), tanpa mengesampingkan etika dan hukum pers. Ia menyebut penelitian tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan di Sumatera Utara.
“Kami SMSI Sumut mendukung penelitian ini dengan hadirnya SMSI dari berbagai daerah di Sumatera Utara ini. Kami sampaikan apresiasi kepada tim peneliti bahwa ini pertama dilakukan di Sumatera Utara di mana tentunya SMSI mempunyai peran strategis dalam mengimplementasikan SEO untuk peningkatan keterampilan wartawan,” kata Erris.
Erris menjelaskan, SMSI telah mencatatkan tiga rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penghargaan tersebut diberikan atas kecepatan, daya sebar, dan banyaknya media siber yang memuat opini “Mendambakan Keadilan Sosial”, yakni 571 media dalam 7,5 jam.
SMSI juga tercatat sebagai organisasi perusahaan pers siber dengan jumlah anggota terbanyak di dunia, mencapai 3.500 anggota di 34 provinsi. Terbaru, SMSI menerima penghargaan atas aksi donor darah serentak di 33 provinsi dalam rangka HUT ke-7 yang diberitakan sekitar 1.300 media online.
Atas capaian tersebut, Erris menegaskan SMSI tidak sekadar menjadi sampel penelitian. Organisasi ini berperan dalam merumuskan desain model implementasi SEO yang diwujudkan dalam produk jurnalistik, dengan tetap memperhatikan etika dan hukum pers.
Ketua tim riset Dr Dedi Sahputra menjelaskan, algoritma Google sangat dinamis sehingga memerlukan teknis khusus dalam mengemas produk jurnalistik yang ramah mesin pencarian atau SEO friendly. Saat ini lebih dari 51.000 media siber tumbuh, tetapi rentan secara ekonomi sehingga memicu kompetisi trafik yang brutal.
Dedi memaparkan data bahwa 16.245 wartawan telah tersertifikasi, namun hanya 9.409 di antaranya berasal dari media siber. Ia juga menyoroti bahwa 0 persen ujian SEO dalam UKW karena modul UKW PWI saat ini mengabaikan uji spesifik mengenai SEO dan literasi algoritmik.
“Saat ini lebih dari 51.000 media siber pertumbuhannya masih tetapi rentan secara ekonomi sehingga memicu kompetisi trafik yang brutal. Sementara 16.245 wartawan tersertifikasi tetapi hanya ada 9.409 dari media siber. Dan 0 persen ujian SEO di UKW karena modul UKW PWI saat ini mengabaikan uji spesifik mengenai SEO dan literasi algoritmik,” jelas Dedi dalam materinya.
Penelitian berjudul “Implementasi SEO untuk Peningkatan Keterampilan Wartawan Menghasilkan Produk Jurnalistik dengan konten Etika dan Hukum Pers untuk Keberlanjutan Media Siber” ini diketuai Dr Dedi Sahputra (UMA), dengan anggota Dr Zakaria Siregar (UISU) dan Dr Fauji Wikanda (UMA).
Menurut Dedi, wartawan dan editor seharusnya memahami etika dan hukum pers dalam penulisan produk jurnalistik hingga layak publikasi. Ia menekankan bahwa literasi SEO semestinya menjadi bahan uji formal dalam tingkatan UKW: wartawan muda untuk eksekusi, wartawan madya untuk strategi, dan wartawan utama untuk kebijakan.