SUMATERA UTARA — Pertumbuhan M2 pada Juli 2026 melanjutkan tren positif, namun lajunya sedikit tertahan dibandingkan Juni 2026 yang tercatat 8,7% secara year-on-year (yoy). Data ini dirilis BI dalam laporan Perkembangan Uang Beredar pada Jumat (21/8).
Akselerasi kredit ini menjadi sinyal positif bagi dunia usaha. Artinya, permintaan pembiayaan dari sektor korporasi dan ritel masih kuat di tengah dinamika ekonomi global.
Perlambatan juga terjadi pada tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus). Instrumen ini hanya tumbuh 4,6% secara tahunan pada Juli 2026, turun drastis dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 10,1%. Penurunan ini menjadi faktor utama yang menahan laju pertumbuhan M2 secara keseluruhan.
Namun, perlambatan tagihan pemerintah perlu dicermati. Ini bisa berarti serapan anggaran dari Kementerian Keuangan belum maksimal atau pemerintah lebih banyak memanfaatkan saldo kasnya. Efeknya, suntikan likuiditas langsung ke perekonomian dari belanja negara berkurang.
Dengan pertumbuhan kredit yang tetap tinggi, BI kemungkinan akan terus memantau keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Keputusan suku bunga pada RDG berikutnya akan menjadi penentu arah likuiditas ke depan.