SUMATERA UTARA — Polsek Pesanggrahan tengah mendalami kasus perusakan motor yang dilakukan seorang pengemobil Alphard terhadap Mulyadi, seorang driver ojek, di Jalan Veteran Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Aksi yang dipicu insiden serempetan itu membuat cover lampu depan motor korban bolong dihantam batu bata.
Kapolsek Pesanggrahan Kompol Seala Syah Alam membenarkan kejadian tersebut. "Si pemilik mobil nggak terima, dirusak (motor) pakai batu dan sebagainya," ujarnya kepada detikNews.
Insiden berawal ketika motor yang dikemudikan Mulyadi diserempet oleh mobil Alphard. Alih-alih menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, pengemudi Alphard justru emosi dan tidak terima kendaraannya disentuh.
Dari video yang beredar, terlihat pengemudi Alphard mengambil batu bata dan langsung menghantam bagian lampu depan motor korban. Mulyadi hanya bisa pasrah melihat kendaraannya dirusak di lokasi kejadian.
Setelah video aksinya viral, pengemudi Alphard mendatangi kediaman Mulyadi untuk meminta maaf secara langsung. Dalam video yang diunggah akun Instagram manangsoebeti_official, pelaku mengaku siap mengganti seluruh kerusakan motor yang dialami korban.
"Kalau saya nggak niat minta maaf buat apa saya kemari, soalnya juga saya kan nggak mau yang namanya lingkungan saya juga kena imbas dari saya," kata pengemudi Alphard dalam video tersebut.
Berdasarkan keterangan driver ojek, amukan sopir Alphard itu dipicu permasalahan pribadi yang tengah dihadapinya. Mulyadi disebut menjadi sasaran pelampiasan amarah pengemudi Alphard.
Praktisi Road Safety sekaligus Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri, menilai aksi perusakan yang dilakukan pengemudi Alphard merupakan contoh nyata dari perilaku road rage. Ini adalah perilaku agresif atau arogan yang ditunjukkan pengendara kepada pengguna jalan lain.
Jusri membeberkan, pemicu pengemudi agresif sering kali berhubungan dengan rasa kuasa, seperti pejabat, organisasi masyarakat, atau rombongan tertentu. Dimensi kendaraan yang lebih besar, mahal, dan mewah juga berpotensi memicu arogansi di jalan.
"Perilaku ini termasuk penghinaan kasar dan verbal, berteriak, ancaman fisik atau perilaku mengemudi berbahaya yang ditargetkan kepada pengemudi lain dalam upaya untuk mengintimidasi atau melepaskan kekesalan," kata Jusri.
Dari sisi kecakapan pengemudi, penyebab road rage lahir dari ketidakmauan mengalah dengan kendaraan lain hingga ketidakpatuhan terhadap aturan lalu lintas. Kasus di Bintaro ini menegaskan bahwa persoalan sepele di jalan bisa berujung pada tindakan kriminal jika emosi tidak terkendali.