SUMATERA UTARA — Marshall akhirnya memperbarui lini speaker portabelnya setelah tujuh tahun. Stockwell III yang dirilis 18 Agustus 2026 ini menggantikan Stockwell II dengan peningkatan yang signifikan di hampir semua sektor: daya tahan baterai dobel lipat, sertifikasi IP55, dan output suara yang digdaya berkat konfigurasi amplifier baru. Saya menguji speaker ini dengan berbagai genre musik lewat Qobuz, dari elektronik ambient hingga pop vokal, untuk melihat apakah klaim "suara fenomenal" itu benar-benar terbukti.
Secara visual, Stockwell III nyaris sempurna untuk kelasnya. Marshall mengganti aksen putih di Stockwell II dengan branding kuningan di bodi hitam atau krem — keputusan desain yang membuat speaker ini terlihat lebih mahal dari harga yang diminta. Material mesh logam di bagian depan dan silikon bertekstur di sekeliling bodi memberi kesan kokoh saat digenggam.
Semua kontrol berada di top plate: tombol Source, joystick playback, tombol 'M' yang bisa dikustomisasi, dan tiga kenop ala amplifier untuk volume, treble, dan bass. Feedback taktil dari semua tombol ini terasa solid, dan indikator baterai di sampingnya membantu menghindari panic saat baterai menipis.
Ini bagian yang paling mengejutkan. Stockwell III mengusung satu woofer 3 inci dengan amplifier 65W Class D dan dua driver wide-band 1,75 inci yang masing-masing digerakkan amplifier 31W. Hasilnya, speaker ini bisa mengeluarkan suara yang sangat keras tanpa distorsi — fitur Dynamic Loudness yang dipinjam dari Stanmore IV bekerja efektif menjaga keseimbangan nada di volume 80%.
Saat memutar "2515" dari Wasia Project, bass yang menggedor tetap terkontrol dan tidak pernah berubah jadi lumpur. Vokal Lana Del Rey di "Mariners Apartment Complex" terdengar jernih di tengah, tidak tenggelam oleh iringan gitar akustik dan piano. Yang paling impresif adalah teknologi True Stereophonic 360°: suara tetap konsisten saat saya berjalan mengelilingi speaker, sesuatu yang jarang ditemui di kelas harga ini.
Klaim 40 jam baterai bukan basa-basi. Dalam pengujian saya dengan volume 50%, speaker ini bertahan tepat di atas 40 jam — hampir dua kali lipat Ultimate Ears Everboom (20 jam) dan Sonos Play (24 jam). Fitur power bank lewat USB-C juga berguna saat piknik, bisa untuk mengisi ulang smartphone darurat.
Untuk konektivitas, Stockwell III mendukung Bluetooth 5.3 dengan codec SBC, AAC, dan LC3 — keunggulan dibanding Everboom yang cuma SBC dan AAC. Dukungan Auracast memungkinkan pairing dengan banyak speaker Marshall lain, dan multipoint bekerja mulus saat saya sambungkan ke MacBook Air dan Pixel 10 Pro XL secara bersamaan.
Bobot 2,9 lbs (sekitar 1,3 kg) membuat speaker ini kurang nyaman untuk dibawa dalam tas selempang. Marshall menyertakan strap beludru ala gitar untuk memudahkan genggaman, tapi tetap saja, Emberton III yang lebih ringan (1,5 lbs) lebih masuk akal untuk mobilitas tinggi. Harga Rp 4 jutaan juga menempatkannya di zona premium — lebih mahal dari Everboom, meski masih di bawah Beosound A1 3rd Gen yang USD 399.
Satu catatan lain: Marshall masih memakai aplikasi Marshall Bluetooth yang terpisah dari aplikasi Marshall baru untuk speaker home generasi keempat. Ini agak membingungkan bagi pengguna ekosistem Marshall, tapi tidak mempengaruhi fungsi utama speaker.
Stockwell III bukan speaker untuk semua orang. Kalau prioritas Anda adalah portabilitas maksimal, Emberton III atau Everboom lebih masuk akal. Tapi kalau Anda mencari speaker mid-size yang bisa dipindah dari ruang tamu ke teras, yang suaranya mengalahkan ukuran fisiknya, dan baterainya tahan seminggu pemakaian normal — ini pilihannya.
Untuk harga USD 249, Anda mendapat paket lengkap: desain yang tidak akan lekang waktu, suara yang memuaskan di berbagai genre, dan daya tahan yang membuat speaker lain di kelasnya malu. Stockwell III layak menjadi speaker portabel andalan, selama Anda tidak keberatan mengangkat 1,3 kg demi kualitas suara setinggi ini.