Ribuan Ikan di Ranu Klakah Mati Mendadak, Warga Budidaya Keramba Rugi Puluhan Juta Rupiah

Penulis: Ragil  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 11:43:01 WIB
Ribuan ikan di Ranu Klakah, Lumajang, ditemukan mati mendadak akibat perubahan kondisi air yang diduga dipicu musim kemarau panjang.

SUMATERA UTARA — Fenomena ikan mati mendadak di Ranu Klakah bukanlah kejadian baru. Warga setempat mengaku peristiwa serupa hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama saat puncak musim kemarau panjang. Namun, intensitas cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim dalam beberapa waktu terakhir disebut memperparah kondisi danau.

Dampak Langsung ke Warga: Ikan Budidaya Ikut Mati

Kematian tidak hanya menimpa ikan liar penghuni danau. Ikan yang dibudidayakan warga dalam keramba juga menjadi korban. Sebagian ikan yang masih layak konsumsi langsung diselamatkan dan dijual oleh pemiliknya untuk menekan kerugian. Sementara itu, bangkai ikan yang telah membusuk dibiarkan mengambang di sejumlah titik permukaan air.

“Ini sudah seperti langganan tiap tahun. Tapi tahun ini agak parah karena kemaraunya panjang,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku kerugian yang diderita para pembudidaya bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam sekali peristiwa.

Fenomena Alam atau Dampak Krisis Iklim?

Dugaan sementara, kematian massal ini dipicu oleh perubahan kondisi air secara drastis. Kandungan belerang (belerang) dari dasar danau diduga naik ke permukaan akibat suhu air yang meningkat dan volume air yang menyusut. Proses ini menyebabkan kadar oksigen terlarut di dalam air menurun drastis hingga ikan kesulitan bernapas.

Peristiwa serupa pernah tercatat terjadi di beberapa danau lain di kawasan vulkanik Indonesia. Ranu Klakah sendiri merupakan danau alami yang berada di lereng Gunung Lamongan. Karakteristik geologis danau ini membuatnya rentan terhadap perubahan suhu dan tekanan udara ekstrem.

Belum Ada Tindakan Konkret dari Pemerintah Daerah

Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah penanganan jangka panjang yang diumumkan oleh Pemerintah Kabupaten Lumajang. Warga hanya bisa mengandalkan upaya mandiri, seperti memanen ikan lebih cepat saat tanda-tanda awal fenomena muncul. Namun, cara tersebut dinilai tidak efektif jika cuaca ekstrem terjadi secara tiba-tiba.

Para pembudidaya berharap pemerintah daerah bisa menyediakan sistem peringatan dini atau bantuan bibit ikan saat musim pemulihan tiba. Tanpa intervensi, siklus kerugian ini diprediksi akan terus berulang setiap tahun.

Reporter: Ragil
Sumber: video.medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top