MEDAN — DHD 45 Sumut menilai kolaborasi dengan TNI merupakan langkah strategis mengingat keduanya memiliki sejarah perjuangan yang sama dalam menjaga masa depan bangsa. Ketua Umum DHD 45 Sumut, Letjen TNI (Purn) Muhammad Hasyim, menyebut sinergi ini difokuskan pada dua ancaman utama yang dinilai paling krusial saat ini.
"Berbagai kolaborasi yang dapat dilakukan diantaranya dalam pemberantasan bahaya narkoba karena zat berbahaya itu bukan lagi menyasar orang dewasa, tapi juga sudah anak muda yang harus dijaga," kata Hasyim usai bertemu Pangdam I/BB Mayjen TNI Hendy Antariksa di Medan, Kamis.
Selain narkoba, Hasyim secara khusus menyoroti bahaya LGBT yang dinilai menggerus jati diri bangsa. Ia menegaskan bahwa penyimpangan seksual tersebut tidak memiliki tempat di Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan nilai-nilai agama.
"Termasuk bahaya LGBT, padahal kita adalah negara Pancasila, beragama, berketuhanan yang Maha Esa, dan tidak ada dalam ajaran agama apapun di Indonesia yang membolehkan itu," tegasnya.
Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Hendy Antariksa menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai upaya menciptakan generasi yang memiliki jiwa juang tinggi adalah garda terdepan dalam memerangi segala hal yang bisa mengganggu keutuhan NKRI.
"Semoga pengurus DHD 45 terus menularkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai perjuangan serta menumbuhkan rasa cinta NKRI ke anak-anak muda yang belum terlalu tersentuh, terutama mental generasi kita menjadi seorang negarawan yang baik," ujar Hendy.
Sinergi ini juga dimaksudkan untuk mengusulkan sejumlah tokoh asal Sumatera Utara sebagai pahlawan nasional. DHD 45 menilai masih banyak nama yang layak diusulkan ke pemerintah pusat agar perjuangannya diakui secara negara.
Kodam I/Bukit Barisan menyatakan siap mendukung penuh program DHD 45, termasuk hingga ke tingkat kabupaten/kota melalui jajaran Komando Distrik Militer (Kodim). Dukungan ini akan diwujudkan dalam bentuk kolaborasi nyata di lapangan untuk merealisasikan visi dan misi pembudayaan kejuangan 45.