MEDAN — Ahmad Qosbi menilai perkembangan digital saat ini menuntut penghulu tidak hanya mahir dalam administrasi dan bimbingan pernikahan, tetapi juga mampu mengomunikasikan terobosan mereka ke publik. “Semakin banyak masyarakat tahu akan inovasi-inovasi itu, maka nama Kementerian Agama semakin besar di era digital ini,” ujarnya dalam sambutan.
Menurut Qosbi, inovasi yang dimaksud bukan sekadar hal besar, melainkan juga perbaikan kecil dalam pelayanan sehari-hari. Mulai dari percepatan proses administrasi di Kantor Urusan Agama (KUA) hingga cara baru menjaga hubungan baik dengan calon pengantin dan keluarganya.
“Apa saja yang punya nilai lebih dari layanan nikah dan tugas-tugas kita sehari-hari, bisa kita publikasi,” tegasnya. Ia mencontohkan, kisah-kisah inspiratif dari lapangan bisa menjadi konten yang memotivasi dan mendekatkan penghulu dengan masyarakat.
Data Kanwil Kemenag Sumut tahun 2025 mencatat sebanyak 372 KUA yang membawahi para penghulu di seluruh provinsi. Jumlah ini menjadi potensi besar untuk menyebarkan praktik baik pelayanan pernikahan secara masif melalui platform digital.
“Para penghulu berkreasi menemukan ide baru dan inovasi baru memberikan pelayanan, mempercepat proses administrasi, serta menjaga hubungan yang lebih baik dengan masyarakat,” tutur Qosbi.
Ketua APRI Provinsi Sumut, Yakhman Hulu, menyebut organisasinya yang kini genap tujuh tahun menjadi mitra strategis pemerintah daerah. Ia menekankan peran penghulu tidak berhenti sebagai pencatat nikah, melainkan juga arsitektur ibadah dan pembinaan umat Islam.
“Ini sebagai rangkaian milad ke-7 APRI. Semoga bisa memperkuat komitmen kita peningkatan pelayanan dan kompetensi para penghulu, sehingga lahirlah penghulu yang berkualitas dan berintegritas,” kata Yakhman.
Ketua Panitia Milad ke-7 APRI Sumut, Zainal Arifin, menambahkan Lomba Pembacaan Khutbah Nikah Penghulu 2026 merupakan bagian dari rangkaian perayaan yang jatuh setiap 17 Juli. Tahun ini mengusung tema “Penghulu Profesional, Keluarga Sakinah, Masyarakat Harmonis”.