MEDAN — Kemudahan yang ditawarkan aplikasi kecerdasan buatan (AI) dinilai berpotensi menciptakan generasi yang malas jika tidak disikapi secara kritis. Peringatan ini disampaikan pejabat Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Medan di hadapan kader mahasiswa, Jumat (17/7/2026).
Sekretaris Dinas Kominfo Kota Medan, Budi Hariono, merefleksikan perjalanan teknologi yang ia alami sejak masa kuliah tahun 1995-1996. Saat itu, ia masih belajar mengetik sepuluh jari menggunakan mesin tik manual dan melewati era transisi ke komputer berbasis sistem operasi DOS yang rumit.
“Dulu waktu saya kuliah tahun ’95 atau ’96, kami belajar mengetik sepuluh jari menggunakan mesin tik, bahkan ada mata kuliah khususnya. Lalu masuk era transisi komputer yang masih menggunakan DOS dan sistem prompt. Perkembangan itu berjalan sangat cepat sampai era disket, CD, hingga sekarang kita sudah berada di era AI,” kenang Budi.
Budi mengakui dirinya merupakan pengguna aktif AI di lingkungan kerja untuk keperluan administratif dan kreativitas. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait dampak buruk ketergantungan pada teknologi tersebut. Menurutnya, kemudahan luar biasa seperti pembuatan naskah pidato otomatis bisa menjadi bumerang jika tidak diimbangi sikap kritis.
“Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh aplikasi itu kadang membuat kita malas. Jujur saja, sekarang kalau mau buat pidato tinggal klik sekali menggunakan AI langsung jadi. Oleh karena itu, jangan sampai kemajuan ini membuat kita malas dan berhenti berkembang. Justru harus kita manfaatkan sebagai batu loncatan untuk melangkah lebih jauh,” ujar Budi Hariono.
Sekretaris PC IMM Kota Medan, Achmad Navish Isnaini, menegaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem akademik. Ia mengakui mahasiswa, peneliti, dan akademisi kerap menggunakan teknologi ini untuk membantu tugas. Namun, ia mengingatkan agar kehadiran AI tidak mendegradasi kualitas intelektual.
“Ketika kita menggunakan AI ini, sejatinya kecerdasan yang dibuat itu bukan semata-mata untuk memenuhi syarat atau kapasitas diri secara instan. AI harus dijadikan alat atau produk pendukung untuk kebutuhan sehari-hari dan riset kita agar lebih optimal,” ujar Achmad Navish didampingi Ketua Panitia Seminar, Sutan Raja Hendi Firmansyah.
Seminar Riset Literasi AI ini menghadirkan narasumber Kaprodi Sistem Informasi Fikti UMSU, Mahardika Abdi Prawira Tanjung, dan Muhammad Fattah dari Dinas Kominfo Kota Medan. Acara ini dihadiri kader IMM dari berbagai komisariat se-Kota Medan.