MEDAN — Sebanyak 20 Puskesmas di Sumatera Utara akan ditingkatkan statusnya menjadi Puskesmas rawat inap sepanjang 2025. Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan program ini merupakan respons atas usulan pemerintah kabupaten/kota dan kebutuhan masyarakat akan akses layanan kesehatan yang lebih dekat.
"Ada 20 Puskesmas tahun ini akan kami perbaiki, tergantung usulan dari bupati/wali kota. Ini pak Bupati Nias Barat mengusulkan di sini, mudah-mudahan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Bobby usai meninjau Puskesmas Mandrehe di Kabupaten Nias Barat, Kamis (16/7).
Salah satu yang menjadi prioritas adalah Puskesmas Mandrehe di Nias Barat. Puskesmas ini dinilai strategis karena melayani penduduk dari 20 desa dengan total sekitar 23 ribu jiwa. Jarak tempuh ke rumah sakit milik pemerintah daerah mencapai 60 kilometer.
Bobby menjelaskan, Puskesmas Mandrehe akan ditingkatkan kapasitasnya dari hanya dua tempat tidur menjadi 10 tempat tidur. Fasilitas persalinan, penambahan tenaga dokter, dan peralatan kesehatan juga akan dilengkapi.
"Jadi ini kita perbaiki fasilitasnya, salah satunya ini menjadi rawat inap. Tadi hanya ada dua tempat tidur dan fasilitasnya minim sekali, jadi kita buat isinya ada 10 bed. Bisa melakukan persalinan, dokter juga," ungkapnya.
Kendala geografis menjadi alasan utama. Akses menuju rumah sakit rujukan masih menjadi persoalan serius bagi warga di Kepulauan Nias. Bobby menuturkan, pembangunan rumah sakit daerah oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi bagian dari penguatan layanan kesehatan di wilayah itu.
"Kemarin Bapak Presiden sudah membangun rumah sakit daerah di sini, bagus sekali. Kami pemerintah provinsi menafsirkan salah satu program Presiden di bidang kesehatan," tuturnya.
Menurut Bobby, Pemprov Sumut ingin mengurangi angka rujukan ke rumah sakit yang kerap terkendala akses. "Jadi kami dari provinsi coba benahi Puskesmas-Puskesmas agar enggak semua masyarakat ke rumah sakit, karena salah satu kendalanya adalah aksesnya," jelasnya.
Selain infrastruktur, Pemprov Sumut juga memperkuat sumber daya manusia di bidang kesehatan. Program beasiswa dokter spesialis terus berjalan. Tahun lalu, sebanyak 16 orang mendapat beasiswa dari pemprov di Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tahun ini, lima orang lagi tengah mengikuti tes khusus dari Kepulauan Nias. "Jadi dari sisi SDM coba kita tingkatkan, dari sisi fasilitas coba kita perbaiki," papar Bobby.
Dengan adanya tambahan tenaga dokter spesialis, diharapkan layanan di Puskesmas rawat inap tidak hanya sekadar fasilitas, tetapi juga didukung tenaga medis yang kompeten. Program ini menjadi bagian dari upaya Pemprov Sumut menekan angka rujukan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di daerah terpencil.