SUMATERA UTARA — Dalam pidatonya, Prabowo tidak main-main. Ia langsung menyoroti praktik-praktik curang yang selama ini menggerogoti keuangan negara di lingkungan BUMN. "Hentikan praktik-praktik kau, hentikan. Rakyat tidak bodoh," tegasnya.
Presiden meminta para koruptor untuk segera menghentikan aksinya. Ia menilai rakyat sudah cerdas dan tidak bisa terus dibohongi oleh oknum-oknum yang merusak sistem.
Pemerintah, kata Prabowo, tidak tinggal diam. Langkah konkret telah diambil dengan mengonsolidasikan aset-aset BUMN melalui Danantara. Lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dibentuk pada 2025 ini kini membawahi aset negara senilai US$1 triliun.
"Kita sekarang adalah dana kedaulatan mungkin kelima atau keenam terbesar di dunia," imbuh Prabowo. Ia meyakini pengelolaan aset yang lebih terpusat dan profesional melalui Danantara akan menekan celah korupsi di tubuh BUMN.
Sejak awal menjabat, Prabowo mengaku telah menutup sekitar 240 BUMN yang dinilai tidak efisien dan tidak menghasilkan keuntungan bagi negara. Angka ini disebut akan terus bertambah.
Dalam laporan IDNFinancials.com sebelumnya, Prabowo telah menyampaikan rencana penutupan 250 entitas BUMN pada akhir Juli 2026. Target akhir tahun ini, jumlah BUMN yang ditutup bisa mencapai 800 entitas. Langkah ini merupakan bagian dari pembersihan besar-besaran di sektor pelat merah.
Di sisi lain, Prabowo juga mendorong agar BUMN dan pengusaha swasta saling memperkuat, bukan saling menjatuhkan. Ia ingin mewujudkan konsep "Indonesia Incorporated", di mana semua elemen ekonomi bergerak bersama.
"Karena Indonesia ini negara besar, kita butuh koperasi, kita butuh UMKM, kita butuh swasta, kita butuh BUMN, BUMD," pungkasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa meski tengah gencar melakukan pembenahan, pemerintah tetap memandang BUMN sebagai salah satu pilar utama ekonomi nasional.