Konflik Selat Hormuz Kembali Memanas, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Hingga 5 Persen, IHSG dan Rupiah Tertekan

Penulis: Ragil  •  Rabu, 08 Juli 2026 | 12:32:31 WIB
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 5 persen akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz.

MEDAN — Lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus kisaran US$72 hingga US$75,9 per barel dalam sepekan terakhir menjadi sinyal kuat bahwa pasar kembali cemas dengan gangguan pasokan energi global. Kenaikan ini terjadi setelah eskalasi konflik di sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa dalam satu hari perdagangan, harga minyak tercatat melonjak hingga 3,5 persen, bahkan lebih dari 5 persen untuk beberapa kontrak. "Lonjakan harga minyak menunjukkan pasar kembali mengkhawatirkan kondisi geopolitik di Timur Tengah. Serangan terbaru di sekitar Selat Hormuz menandakan konflik belum benar-benar berakhir," ujarnya, Rabu (8/7).

Bagaimana Dampaknya ke Pasar Saham dan Rupiah?

Sentimen negatif dari kenaikan harga energi langsung terasa di bursa saham kawasan Asia yang mayoritas bergerak di zona merah. IHSG pun ikut tertekan dan berpotensi menguji level psikologis 5.900 jika tekanan jual masih berlanjut.

"Naiknya harga minyak kembali menjadi sentimen negatif bagi pasar saham domestik. Investor mulai mengantisipasi kenaikan inflasi global yang dapat mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat," jelas Gunawan.

Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah semakin terasa. Nilai tukar mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring dengan menguatnya indeks dolar AS (USD Index) yang kembali bertengger di atas level 101. Para investor global cenderung memburu aset berdenominasi dolar AS sebagai instrumen yang dinilai lebih aman di tengah ketidakpastian.

Emas Stabil, Tapi Terbatas

Sementara itu, harga emas dunia masih bergerak relatif stabil di kisaran US$4.120 per troy ons atau setara dengan Rp2,39 juta per gram. Namun, Gunawan mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak juga bisa menjadi faktor yang membatasi penguatan emas apabila ekspektasi suku bunga global kembali meningkat.

Ke depan, seluruh mata pasar akan tertuju pada perkembangan konflik di Selat Hormuz. "Jika eskalasi terus berlanjut, harga minyak berpotensi kembali naik dan memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar keuangan, termasuk IHSG dan rupiah," tutup Gunawan.

Reporter: Ragil
Sumber: indexsumut.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top