Pemprov Sumut Bangun Dua Akses Jalur Baru ke Wisata Air Panas Sidebuk Debuk di Karo, Target Urai Kemacetan Berastagi

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 13:18:01 WIB
Gubernur Sumut dan Bupati Karo meresmikan dua jalur baru menuju wisata air panas Sidebuk Debuk.

MEDAN — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara membuka dua jalur alternatif menuju objek wisata pemandian air panas Sidebuk Debuk di Desa Semangat Gunung, Kabupaten Karo. Keputusan ini diumumkan Gubernur Bobby Nasution usai menerima Bupati Karo Antonius Ginting di Kantor Gubernur Sumut, Medan, Senin.

Jalur pertama menghubungkan Penatapan Berastagi dengan Desa Semangat Gunung. Jalur kedua menyambungkan Jaranguda Berastagi ke desa yang sama.

"Kita sudah komitmen tidak ada lagi pungutan kepada pengunjung. Ini langkah awal menaikkan kelas objek pariwisata kita, kemudian akses yang lebih mudah juga sangat penting," ujar Bobby.

Dua Jalur Baru untuk Urai Kemacetan di Berastagi

Bupati Karo Antonius Ginting menjelaskan, pembangunan akses ini tidak hanya mempermudah wisatawan. Jalan baru juga diharapkan mengurai kemacetan lalu lintas di kawasan Berastagi dan sekitarnya, terutama saat akhir pekan dan hari libur nasional.

"Jadi yang dari Medan bisa langsung ke lokasi tanpa harus ke Daulu dahulu. Dari Simalungun, dan Aceh Tenggara bisa dari Jaranguda. Ini juga membantu memecah kemacetan lalu lintas," tegas Antonius.

Kampung Wisata dan Skema Retribusi Baru

Selain akses jalan, Pemprov Sumut mendorong Pemerintah Kabupaten Karo membentuk kampung wisata di lokasi pemandian air panas. Kawasan ini dirancang menjadi pusat aktivitas ekonomi warga, mulai dari sentra oleh-oleh, area penjual makanan, hingga usaha pendukung lainnya.

Bobby menyarankan pengelolaan kampung wisata bisa memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari pelaku usaha di sekitar lokasi. "Beberapa pelaku usaha mengumpulkan dana CSR yang digunakan membangun kampung wisata, dan pengelolanya masyarakat," ujar dia.

Skema retribusi ke depan juga diubah. Antonius menjelaskan, pungutan tidak lagi dibebankan langsung ke pengunjung, melainkan melalui pajak restoran, penginapan, tempat pemandian, parkir, dan usaha lainnya.

"Retribusinya dari situ. Kemudian masyarakat kita akan bekerja di sana, seperti parkir, pengutip retribusi, petugas kebersihan, dan lainnya. Kita alihkan mereka ke pekerjaan yang profesional," papar Antonius.

Reporter: Sutomo
Sumber: sumut.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top