Ferrari Luce EV Dikritik Tajam, CEO Lamborghini Beri Respons soal Strategi Hybrid

Penulis: Fajar  •  Sabtu, 13 Juni 2026 | 00:36:01 WIB
CEO Lamborghini menegaskan strategi plug-in hybrid sebagai langkah tepat di tengah kontroversi Ferrari Luce EV.

SUMATERA UTARA — Kontroversi seputar Ferrari Luce EV tak hanya mengguncang internal pabrikan asal Maranello, tetapi juga memantik reksi dari rival abadinya, Lamborghini. CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, secara terbuka menyebut strategi perusahaannya yang memilih fokus pada teknologi plug-in hybrid ketimbang mobil listrik murni adalah keputusan yang tepat. Hal ini ia sampaikan menanggapi gejolak yang terjadi setelah peluncuran Luce EV.

"Keputusan kami untuk bertransisi dari mesin konvensional ke plug-in hybrid merupakan lompatan signifikan dan sejauh ini membuahkan hasil yang memuaskan," ujar Winkelmann, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber. Ia menambahkan bahwa inovasi di industri otomotif tidak boleh dipaksakan jika belum selaras dengan kesiapan pasar dan penerimaan konsumen.

Desain Radikal Ferrari Luce EV yang Memicu Kritik

Ferrari memperkenalkan Luce EV sebagai jawaban mereka terhadap era elektrifikasi. Namun, alih-alih mendapat sambutan meriah, mobil ini justru dihujani kritik pedas. Banyak pihak menilai desainnya terlalu menyimpang dari identitas Ferrari yang lekat dengan citra supercar agresif dan berkarakter kuat.

Luce EV dikerjakan oleh mantan desainer ternama Apple, Jony Ive, dengan mengusung estetika minimalis. Eksteriornya bergaris membulat dan interiornya didominasi layar sentuh. Pendekatan ini dianggap banyak penggemar tidak mencerminkan jiwa 'Il Cavallino Rampante' yang ikonik.

Dampak ke Saham dan Kritik dari Tokoh Penting Italia

Reaksi negatif terhadap desain Luce EV bahkan berdampak pada nilai saham Ferrari. Di bursa Milan, saham perusahaan dilaporkan mengalami penurunan sekitar 8 persen pasca peluncuran resmi. Sejumlah analis pasar menilai penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif publik atau yang disebut sebagai "design hate".

Kritik tidak hanya datang dari pengamat otomotif dan publik. Mantan bos Ferrari, Luca di Montezemolo, serta Wakil Perdana Menteri Italia, Matteo Salvini, turut menyuarakan kekecewaan. Mereka berpendapat bahwa mobil listrik tersebut kehilangan esensi Ferrari yang selalu identik dengan deru mesin buas dan desain yang membangkitkan emosi.

Strategi Plug-In Hybrid Lamborghini Dinilai Lebih Aman

Menanggapi gejolak yang terjadi, Winkelmann menekankan pentingnya membaca kesiapan pasar. Menurut pengamatannya, kurva penerimaan mobil listrik murni untuk segmen konsumen supercar belum menunjukkan peningkatan signifikan. Oleh karena itu, Lamborghini memilih jalan lebih konservatif dengan beralih ke teknologi plug-in hybrid.

Strategi ini memungkinkan Lamborghini memadukan mesin V12 legendaris dengan motor listrik. Tujuannya adalah memberikan pengalaman berkendara intens tanpa sepenuhnya meninggalkan warisan suara dan sensasi mesin pembakaran internal. Pendekatan ini dinilai mampu memenuhi regulasi emisi yang ketat sambil tetap mempertahankan DNA performa dan emosi merek.

"Kami mengamati pergerakan pasar dengan seksama. Dari pengamatan kami, kurva penerimaan mobil listrik murni untuk segmen konsumen kami belum menunjukkan peningkatan yang signifikan," jelas Winkelmann. Perdebatan soal masa depan supercar antara elektrifikasi penuh dan pendekatan hybrid dipastikan masih akan terus bergulir.

Reporter: Fajar
Sumber: tandaseru.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top