Glencore: ESG Kunci Agar Nikel RI Tak Ditinggal Pasar Global, Maluku Utara Jadi Sorotan

Penulis: Saiful  •  Kamis, 04 Juni 2026 | 12:35:31 WIB
Kawasan Industri Weda Bay Industrial Park di Maluku Utara menjadi pusat hilirisasi nikel terintegrasi di Indonesia.

SUMATERA UTARA — Indonesia saat ini menguasai 66,7 persen produksi nikel global dengan total 2,6 juta ton pada 2025, berdasarkan data USGS. Dari jumlah itu, Maluku Utara menyumbang sekitar seperlimanya. Kawasan Industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah menjadi pusat hilirisasi terintegrasi—dari tambang, smelter RKEF, fasilitas HPAL, hingga produksi prekursor baterai.

Kawasan ini membentang seluas 3.000 hingga 5.000 hektare dan mempekerjakan lebih dari 90.000 pekerja. Namun, skala sebesar itu membuat dampak lingkungan dan sosial tak bisa diabaikan.

“Yang penting adalah mengintegrasikan aspek ESG agar pertumbuhan berjalan bersama dengan upaya meminimalkan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat lokal,” kata Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schooters, dalam diskusi “Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku” di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Regulasi Global Makin Ketat, Sertifikasi Jadi Tiket Masuk

Ilse menegaskan, penerapan ESG tidak bisa hanya bersifat administratif. Tata kelola keberlanjutan harus melekat dalam model bisnis dan operasional harian perusahaan. Standar internasional seperti Nickel Mark disebut bisa menjadi instrumen untuk membangun kepercayaan pembeli global.

“Dialog, bekerja bersama, dan mencari solusi merupakan bagian penting dari tata kelola ESG yang baik,” ujarnya. Menurut dia, transparansi pelaporan dan audit pihak ketiga menjadi kunci agar produk nikel Indonesia tetap diterima di pasar Eropa yang menerapkan standar rantai pasok baterai ketat.

IWIP Klaim Terus Perbaiki Tata Kelola, Kolaborasi dengan Tenant

ESG Superintendent IWIP, Xiaolin Wang, mengakui pengelolaan keberlanjutan adalah proses perbaikan berkelanjutan. Pihaknya mengembangkan model pengelolaan ESG secara kolaboratif bersama tenant industri melalui standar dasar, mekanisme tata kelola, dan pengawasan ketat di kawasan.

“Pengelolaan ESG merupakan proses perbaikan berkelanjutan,” kata Xiaolin. Langkah ini dinilai penting untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan investor, pelanggan, dan regulator global yang terus berubah.

Tanpa penguatan ESG yang kredibel, posisi Indonesia sebagai pemasok utama nikel dunia—khususnya untuk baterai kendaraan listrik—bisa tergerus oleh tuntutan pasar yang kian selektif. Maluku Utara, dengan segala potensi dan risikonya, menjadi uji nyata apakah hilirisasi bisa berjalan berkelanjutan atau justru meninggalkan masalah baru.

Reporter: Saiful
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top