Pusdokkes Polri Gunakan DNA Tulang Identifikasi 18 Korban Bus ALS Muratara

Penulis: Sutomo  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 11:35:01 WIB
Tim DVI Pusdokkes Polri melakukan identifikasi korban bus ALS Muratara menggunakan DNA tulang.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri kini mengandalkan pemeriksaan DNA dari sampel tulang untuk mengidentifikasi 18 jenazah korban kecelakaan bus ALS di Musi Rawas Utara. Langkah medis ini diambil setelah suhu panas ekstrem dari ledakan truk tangki BBM menghancurkan jaringan lunak dan data odontologi para korban.

Kamar jenazah di Palembang menjadi saksi bisu upaya keras tim medis dalam mengungkap identitas para korban kecelakaan maut di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Insiden yang melibatkan bus ALS dan sebuah truk tangki BBM pada Sabtu (9/5/2026) tersebut menyisakan tantangan besar bagi tim identifikasi. Kobaran api yang sangat besar membuat metode pengenalan fisik konvensional tidak lagi memungkinkan untuk dilakukan.

Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri Komisaris Besar Polisi Wahyu Hidayati menyatakan bahwa mayoritas sampel kini diambil dari bagian tulang. Hal ini disebabkan oleh kondisi jaringan lunak korban yang sudah tidak utuh akibat paparan panas api yang sangat tinggi saat kecelakaan terjadi. Tim harus bekerja sangat selektif dalam memilih bagian tubuh yang masih menyimpan materi genetik untuk diuji di laboratorium.

Mengapa Sampel Tulang Jadi Tumpuan Terakhir?

Dalam proses identifikasi DNA, tidak semua bagian tulang bisa digunakan, terutama jika jenazah telah terpapar api dalam waktu lama. Tim DVI harus mencari bagian tulang yang masih memiliki sisa-sisa sumsum atau jaringan internal yang belum rusak total. Fokus utama pencarian adalah tulang yang secara visual masih menunjukkan warna kemerahan.

"Dalam kondisi sekarang ini, kita mengambil tulang. Kita juga memilih tulang yang masih merah, yang kira-kira masih ada DNA-nya. Karena kalau tulangnya sudah jadi arang, tidak bisa," ujar Wahyu Hidayati saat memberikan keterangan di Palembang. Pemilihan sampel tulang merah ini menjadi krusial karena materi DNA di dalamnya cenderung lebih terlindungi dibandingkan bagian luar yang sudah menjadi karbon atau arang.

Proses ini memakan waktu lebih lama dibandingkan pemeriksaan sidik jari atau catatan gigi. Tim laboratorium harus melakukan ekstraksi materi genetik dari jaringan keras tulang sebelum akhirnya dapat dicocokkan dengan data DNA dari keluarga korban. Upaya "jemput bola" pun dilakukan oleh tim DVI Polda Sumsel untuk mempercepat pengumpulan data pembanding dari pihak kerabat.

Kerusakan Data Gigi Akibat Panas Ledakan BBM

Sebelumnya, tim DVI berharap proses identifikasi bisa dilakukan melalui pemeriksaan gigi atau data odontologi, sebagaimana lazimnya penanganan kasus kebakaran. Gigi manusia dikenal sebagai bagian tubuh yang paling tahan terhadap panas. Namun, intensitas api dalam kecelakaan bus ALS dengan truk tangki BBM ini melampaui ambang batas ketahanan tersebut.

Suhu panas yang sangat tinggi menyebabkan struktur gigi para korban menjadi sangat rapuh dan hancur. Kondisi ini membuat pembanding utama identitas korban menjadi sulit untuk dianalisis. "Karena apinya sangat besar sehingga sebagian besar tulang, termasuk gigi, itu juga menjadi rapuh," jelas Wahyu. Kerusakan masif pada bagian gigi ini menutup salah satu jalur tercepat dalam prosedur identifikasi korban bencana (DVI).

Selain faktor medis, hilangnya properti pribadi juga menjadi kendala tersendiri. Saat tabrakan terjadi, benturan keras menyebabkan barang-barang milik penumpang terlepas dari tubuh mereka. Dompet, dokumen identitas, hingga perhiasan yang biasanya membantu proses pengenalan awal ikut terbakar atau terpisah jauh dari posisi jenazah di lokasi kejadian.

Update Jumlah Korban dan Proses Pencarian

Data terbaru menunjukkan adanya penambahan jumlah korban dalam tragedi ini. Meski awalnya dilaporkan sebanyak 17 jenazah, jumlah tersebut kini teridentifikasi menjadi 18 orang. Penambahan ini terjadi setelah tim medis menemukan dua jenazah berada dalam satu kantong jenazah yang sama saat proses evakuasi dan pemeriksaan awal di rumah sakit.

Kecelakaan ini juga menyisakan duka mendalam bagi warga di luar Sumatera Selatan. Salah satu korban yang berasal dari Tegal dilaporkan meninggal dunia setelah sempat berjuang melawan luka bakar hingga 90 persen. Sementara itu, upaya pencarian di sekitar lokasi juga sempat difokuskan pada area perairan, di mana satu korban yang hanyut di Sungai Musi akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah empat hari pencarian.

Saat ini, tim DVI Polri terus bekerja mengolah hasil pemeriksaan dari sampel-sampel tulang tersebut. Hasil identifikasi ini nantinya akan disampaikan secara resmi kepada pihak keluarga setelah seluruh profil DNA berhasil dipetakan dan dicocokkan secara akurat dengan data ante-mortem yang telah dikumpulkan dari berbagai daerah asal penumpang bus ALS tersebut.

Reporter: Sutomo
Sumber: jpnn.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top