Xiaomi resmi meluncurkan Xiaomi 17 Ultra dengan sensor utama satu inci dan lensa telefoto 200MP untuk pasar global. Ponsel seharga 1.499 Euro atau sekitar Rp 25,9 juta ini menegaskan ambisi pabrikan asal China tersebut untuk bertarung di kelas ultra-premium. Kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa Xiaomi telah sepenuhnya meninggalkan perang harga demi mengejar kualitas fotografi mobile tertinggi.
Xiaomi tidak lagi bermain-main dengan jargon "ponsel murah spek dewa". Melalui Xiaomi 17 Ultra, mereka mengirimkan pesan jelas kepada Apple dan Samsung bahwa takhta fotografi mobile kini menjadi rebutan terbuka. Dengan banderol harga yang menembus angka 25 juta rupiah, Xiaomi kini lebih fokus pada pembuktian teknologi daripada sekadar volume penjualan.
Sektor kamera menjadi nilai jual utama sekaligus alasan mengapa modul kamera di bagian belakang ponsel ini terlihat sangat masif. Xiaomi membenamkan sensor utama Light Fusion 1050L berukuran satu inci dengan resolusi 50MP. Ukuran fisik sensor yang besar ini memungkinkan penangkapan cahaya yang jauh lebih baik, menghasilkan kedalaman ruang (depth of field) alami yang sulit ditiru oleh pemrosesan perangkat lunak ponsel biasa.
Namun, bintang utamanya adalah lensa telefoto 200MP menggunakan sensor Samsung HPE. Berbeda dengan lensa tetap pada umumnya, Xiaomi menerapkan mekanisme zoom optik variabel yang bergerak antara 3,2x hingga 4,3x. Berikut adalah rincian konfigurasi kamera belakang Xiaomi 17 Ultra:
Ada satu catatan ergonomi yang perlu diperhatikan pengguna. Posisi lensa utama yang berada di bagian bawah modul raksasa tersebut membuat jari telunjuk seringkali tidak sengaja masuk ke dalam bingkai foto saat memegang ponsel secara natural. Pengguna harus menyesuaikan posisi genggaman agar tidak merusak komposisi gambar.
Di balik dapur pacunya, Xiaomi 17 Ultra menjadi salah satu perangkat pertama yang mengadopsi chipset Qualcomm Snapdragon 8 Elite Gen 5. Dipadukan dengan RAM 16GB, ponsel ini melibas tugas berat seperti penyuntingan video 4K dan pemrosesan foto RAW tanpa hambatan berarti. Skor benchmark menunjukkan angka yang impresif, bersaing ketat dengan iPhone 17 Pro Max dan Samsung Galaxy S26 Ultra.
Konsekuensi dari performa tinggi ini adalah manajemen suhu. Saat digunakan untuk sesi gim intensif seperti "Destiny" atau perekaman video 4K dalam durasi lama, bodi ponsel terasa panas secara signifikan. Meski tidak sampai menyebabkan sistem mati mendadak (throttling), panas yang dihasilkan cukup terasa di telapak tangan, sebuah kompromi yang sering ditemui pada ponsel dengan frekuensi prosesor yang sangat tinggi.
Visual Xiaomi 17 Ultra ditopang oleh panel AMOLED LTPO berukuran 6,9 inci dengan tingkat kecerahan puncak mencapai 3.500 nits. Layar ini menawarkan reproduksi warna yang sangat hidup, menyerupai karakter layar Samsung yang saturasi warnanya tinggi. Xiaomi juga menyertakan fitur perlindungan Xiaomi Shield Glass 3.0 dan sertifikasi IP68 untuk ketahanan air dan debu.
Dari sisi perangkat lunak, HyperOS 3 berbasis Android 16 memberikan fleksibilitas kustomisasi yang luar biasa. Namun, satu hal yang cukup mengganggu untuk ponsel di kelas harga premium adalah masih ditemukannya iklan atau promosi di dalam sistem. Bagi konsumen yang sudah merogoh kocek hampir Rp 26 juta, keberadaan iklan ini tentu terasa mencederai pengalaman eksklusif yang ditawarkan.
Xiaomi menyematkan baterai berkapasitas 6.000 mAh yang mampu bertahan hingga tujuh jam screen-on time dengan penggunaan kamera yang intens. Pengisian daya kabel 90W mampu mengisi baterai hingga penuh dalam waktu sekitar 62 menit. Meski angka ini sudah sangat cepat, beberapa kompetitor asal China lainnya mulai beralih ke teknologi baterai silikon-karbon yang menawarkan kapasitas lebih besar dalam ukuran fisik yang sama.
Satu aspek yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Xiaomi adalah kualitas video. Walaupun unggul telak dalam fotografi diam, stabilisasi video pada Xiaomi 17 Ultra masih terasa kurang mulus jika dibandingkan dengan standar emas yang ditetapkan oleh iPhone. Terjadi sedikit guncangan dan noise saat melakukan perekaman dalam kondisi cahaya rendah, menunjukkan bahwa algoritma pemrosesan video Xiaomi masih butuh penyempurnaan lebih lanjut untuk benar-benar menggeser dominasi Apple di segmen videografi mobile.