Medan – Kesawan, kawasan heritage di jantung Kota Medan, belakangan ini menjadi magnet bagi anak muda yang menghabiskan waktu dengan nongkrong, menikmati berbagai kuliner, dan merasakan suasana kota tua. Keramaian ini memicu pertanyaan: apakah aktivitas ini benar-benar menjadi penggerak ekonomi atau hanya sekadar tren gaya hidup semata?
Menurut seorang dosen ekonomi pembangunan dari Universitas Sumatera Utara, keramaian di Kesawan tidak dapat dijadikan indikator utama pertumbuhan ekonomi secara makro, meski tetap memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diukur melalui PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) yang berbasis nilai tambah dan aktivitas ekonomi tercatat.
Namun demikian, aktivitas UMKM yang terjadi di lapangan tetap berkontribusi terhadap perputaran ekonomi melalui rantai pasok yang menghubungkan sektor informal dengan formal. Misalnya, pedagang jus yang menjual di pinggir jalan membeli gula, bahan baku, dan kemasan dari pelaku usaha formal yang tercatat dalam sistem ekonomi resmi.
Meskipun nilai transaksi per individu tergolong kecil, jumlah pengunjung yang besar mampu menciptakan akumulasi perputaran uang yang cukup tinggi dalam waktu singkat. Aktivitas nongkrong anak muda memiliki dampak nyata terhadap perputaran ekonomi lokal, terutama bagi pelaku usaha kecil dan sektor formal seperti kafe dan restoran.
Sebagian besar pengunjung melakukan konsumsi berupa pembelian makanan, minuman, kerajinan, dan dagangan lainnya. Dampak ini langsung terasa oleh UMKM di kawasan tersebut, dengan peningkatan jumlah pembeli yang berakibat pada naiknya pendapatan harian mereka secara konsisten.
Fenomena ramai nongkrong di Kesawan mencerminkan kombinasi antara peningkatan daya beli dan perubahan gaya hidup generasi muda Medan. Data menunjukkan pendapatan per kapita Kota Medan meningkat dari sekitar Rp132 juta pada 2024 menjadi Rp141 juta pada 2025, menandakan adanya ruang konsumsi yang semakin besar di masyarakat.
Konsumsi yang terjadi tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan dasar, melainkan juga sebagai bentuk interaksi sosial dan ekspresi identitas anak muda. Aktivitas nongkrong menjadi bagian integral dari gaya hidup urban, di mana ruang-ruang publik seperti Kesawan bertransformasi menjadi tempat bersosialisasi sekaligus pusat aktivitas ekonomi.
Meskipun belum sepenuhnya berdampak besar terhadap indikator ekonomi makro, tren nongkrong anak muda di Kesawan tetap menjadi penggerak penting bagi ekonomi lokal. Kontribusinya terhadap UMKM dan sektor formal menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi di ruang publik memiliki efek multiplier yang signifikan bagi kesejahteraan pelaku usaha kecil dan menengah di Medan.