SUMATERA UTARA — DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan aset kelolaan (AUM) 13% secara tahunan pada Semester I 2026, dengan rata-rata AUM per nasabah naik 15%. Pertumbuhan itu ditopang lonjakan Investment Fee Income 65% dan laba bersih setelah pajak yang tumbuh 24%. Bank asal Singapura ini lantas membidik total AUM S$ 1 triliun (sekitar Rp 13.970 triliun) di seluruh pasar pada 2030.
Group Head of Consumer Banking and Wealth Management DBS Bank Shee Tse Koon menyebut kinerja unit wealth management di Indonesia ditopang kelengkapan produk yang ditawarkan, mulai dari ekuitas, obligasi, reksa dana, dan derivatif hingga aset di pasar privat. Menurut dia, pendekatan itu memperluas pilihan nasabah dalam menyusun portofolio.
Diversifikasi Menjauh dari Tema AI
Perubahan paling mencolok terlihat pada pergeseran selera investasi nasabah kaya. Tse Koon mengatakan klien mulai mengurangi konsentrasi pada tema kecerdasan artifisial (AI) dan melirik sektor keuangan, kesehatan, serta energi.
"Saat ini, dunia secara umum tengah membicarakan investasi terkait AI. Jadi, tidak mengherankan jika ada minat yang cukup besar terhadap hal ini. Namun belakangan ini, klien mulai mendiversifikasi di luar tema AI semata. Bukan dari 100 menjadi nol. Namun, saran yang diberikan mendorong investor untuk mulai melakukan diversifikasi," kata Tse Koon dalam acara DBS Asia Future Forward 2026 (AFFC) Regional Media Roundtables di Singapura, Minggu (11/10).
Diversifikasi ini menyentuh instrumen yang lebih luas. Selain obligasi pemerintah Indonesia dan reksa dana, nasabah DBS menaruh dana pada produk yang terkait pergerakan nilai tukar mata uang atau currency-linked investments. Asuransi turut dikembangkan sebagai bagian dari solusi pengelolaan kekayaan.
"Cukup banyak nasabah yang berinvestasi pada obligasi pemerintah Indonesia. Namun, kami juga memiliki nasabah yang berinvestasi pada berbagai reksa dana di platform kami," ujar Tse Koon.
Modal Utama DBS di Pasar Wealth Management Indonesia
Di pasar Indonesia, DBS menilai posisinya relatif kuat dibanding bank internasional lain. Tse Koon mengklaim perseroan berada di posisi nomor satu dalam bisnis pengelolaan kekayaan di antara pemain yang setara.
"Dibandingkan dengan pemain yang relatif setara, yakni bank internasional di Indonesia, menurut saya kami berada di posisi nomor satu dalam bisnis pengelolaan kekayaan," katanya.
Klaim itu bersandar pada portofolio produk yang lebar. Layanan pengelolaan kekayaan tidak hanya mencakup produk investasi tradisional, tetapi juga solusi keuangan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.
Target AUM S$ 1 Triliun pada 2030
DBS Bank membidik pertumbuhan AUM menjadi S$ 1 triliun atau sekitar Rp 13.970 triliun (kurs Rp 13.970 per dolar Singapura) di seluruh pasar pada 2030. Tiga pilar yang diandalkan untuk mengejar target itu adalah pengembangan AI, perluasan kemitraan ekosistem, serta investasi berkelanjutan pada talenta dan teknologi.
Bagi nasabah kaya Indonesia, arah strategi DBS memberi sinyal bahwa pilihan instrumen bakal makin lebar. Di sisi lain, pelaku industri wealth management dalam negeri menghadapi tekanan bersaing dengan bank internasional yang punya akses produk lintas negara dan pasar privat.