MEDAN — Nutrifood bersama Guru Belajar Foundation menggelar workshop tahap lanjutan bertajuk "Desain & Implementasi Pembelajaran PJOK Bermakna" di Nutrihub Medan, baru-baru ini. Kegiatan tersebut menyasar para guru olahraga agar tidak sekadar mengajarkan teknik fisik, tetapi juga mampu membangun fondasi kesehatan jangka panjang bagi para murid di sekolah.
Respons Terhadap Ancaman Gaya Hidup Sedenter pada Anak
Program NPET muncul sebagai jawaban atas tantangan kesehatan yang dihadapi generasi muda saat ini. Anak-anak dinilai semakin rentan terhadap pola hidup tidak sehat, mulai dari minimnya aktivitas fisik hingga tingginya konsumsi gula dan lemak.
Selain pola makan, penggunaan gawai yang berlebihan menjadi faktor pemicu gaya hidup sedenter atau kurang gerak. Melalui pendekatan pembelajaran yang lebih mendalam, guru PJOK diharapkan mampu mengubah kebiasaan buruk tersebut sejak dini melalui interaksi di lingkungan sekolah.
Melibatkan Ribuan Peserta di 18 Kota Indonesia
Antusiasme terhadap program ini terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai 4.413 orang dari seluruh Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan asesmen awal, sebanyak 3.535 peserta dinyatakan lolos untuk mengikuti tahap dasar hingga tahap lanjutan.
Workshop luring dilaksanakan secara serentak di 18 titik Nutrihub, mulai dari Medan, Pekanbaru, Palembang, hingga Denpasar dan Makassar. Bagi peserta yang berada di lokasi terpencil, panitia menyediakan tiga sesi daring guna memastikan pemerataan edukasi bagi seluruh tenaga pendidik.
CEO Nutrifood, Mardi Wu, menegaskan bahwa sekolah adalah ruang strategis untuk menanamkan literasi kesehatan. Menurutnya, guru olahraga memiliki posisi kunci dalam membangun karakter dan kebiasaan hidup sehat yang akan terbawa hingga usia dewasa.
"Guru PJOK memiliki peran besar dalam membantu murid membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Mulai dari literasi hidup sehat, pelibatan orangtua dan penguatan karakter murid," ujar Mardi Wu.
Mengubah Paradigma Pengajaran Olahraga di Sekolah
Ketua Operasional Guru Belajar Foundation, Maman Basyaiban, menambahkan bahwa peran guru PJOK kini harus lebih transformatif. Fokus pengajaran perlu digeser dari sekadar instruksi olahraga menjadi pembentukan cara berpikir dan kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan.
"Guru PJOK adalah pemimpin perubahan gaya hidup. Perannya tidak hanya mengajarkan keterampilan olahraga, tetapi juga membangun kesadaran murid tentang pentingnya hidup sehat," kata Maman Basyaiban.
Setelah fase workshop berakhir, para guru akan memasuki tahap implementasi langsung di sekolah masing-masing. Proses ini mencakup pendampingan serta publikasi cerita perubahan untuk menginspirasi tenaga pendidik lainnya di seluruh Indonesia dalam menciptakan generasi yang lebih berkualitas.