SUMATERA UTARA — Danantara berperan memobilisasi pendanaan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia dengan mengoptimalkan peran BUMN sebagai mitra investasi. Kesenjangan pembiayaan infrastruktur membuat dana investasi negara ini dibutuhkan untuk menarik modal domestik maupun internasional. Langkah itu dinilai krusial agar pembangunan tetap selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Infrastruktur seperti sistem transportasi, jaringan pembangkit energi, fasilitas air dan sanitasi, serta layanan telekomunikasi menjadi fondasi aktivitas masyarakat dan dunia usaha. Kurangnya investasi di sektor ini berarti hilangnya peluang mencapai kesejahteraan yang lebih baik serta pembangunan yang inklusif bagi generasi mendatang.
Dalam jangka panjang, investasi infrastruktur diperkirakan menghasilkan tingkat pengembalian sosial-ekonomi sekitar 20 persen. Setiap satu dolar yang ditanam dapat menaikkan PDB sebesar 20 sen dolar AS, bahkan lebih tinggi di negara dengan kebutuhan infrastruktur besar.
Besaran belanja negara dari APBN bukan satu-satunya faktor penentu. Kualitas investasi ikut menentukan manfaat jangka panjang yang diharapkan, dan sejumlah studi terbaru menunjukkan peningkatan kualitas infrastruktur efektif mengurangi kemiskinan.
Laporan terbaru Bank Dunia menemukan pembangunan infrastruktur baru dapat menelan biaya 2 hingga 8 persen dari PDB per tahun bagi negara berpenghasilan rendah dan menengah hingga 2030. Rentang itu bergantung pada kualitas dan kuantitas layanan yang ditargetkan serta efisiensi belanja yang dicapai, mengacu pada kajian Rozenberg dan Fay (2019).
Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kombinasi sumber pendanaan publik dan swasta. Investasi modal minimal diperlukan untuk layanan dasar seperti listrik, transportasi, air dan sanitasi, irigasi, serta perlindungan banjir. Pengeluaran lebih besar diperlukan agar negara berpenghasilan rendah dan menengah dapat mencapai SDGs terkait infrastruktur.
Negara dengan tingkat pembangunan dan kematangan finansial berbeda menghadapi tantangan pembiayaan yang juga berbeda. Negara berpenghasilan tinggi punya opsi pembiayaan melalui utang maupun ekuitas, sementara banyak negara berpenghasilan menengah ke bawah justru kekurangan modal swasta.
Proyek seperti produksi dan distribusi energi terbarukan, jaringan air, serta perbaikan bangunan dapat menghasilkan arus pendapatan dari konsumen yang penting untuk menarik minat investor swasta. Namun di banyak negara berkembang, imbal hasil per kapita dari biaya layanan pengguna dianggap terlalu kecil untuk memberi pengembalian investasi yang memadai, ditambah persepsi risiko yang tinggi.
Indonesia menghadapi tantangan serupa berupa dangkalnya pasar utang dan minimnya peringkat kredit. Kondisi itu menyulitkan akses pendanaan dari pasar modal melalui penerbitan obligasi infrastruktur atau obligasi proyek.
Di titik inilah Danantara dapat berperan menarik pendanaan swasta internasional dan nasional untuk melengkapi sumber pendanaan tingkat nasional maupun daerah, dengan tujuan berkontribusi pada pembangunan infrastruktur nasional.
Tujuan utamanya menjadikan Danantara mitra kelembagaan yang kredibel untuk memobilisasi aliran masuk modal investasi asing yang baru. Dana-dana yang baru dibentuk dengan mandat investasi pembangunan atau strategis dirancang memacu investasi asing langsung ke sektor-sektor strategis dalam perekonomian domestik.
Pembentukan Danantara di Indonesia melalui pendayagunaan BUMN memiliki kemiripan dengan Temasek di Singapura. Untuk memperkuat perannya, diusulkan pembentukan Mekanisme Koordinasi Strategi Nasional (NSCM) yang menyediakan panduan koordinasi tata kelola antarentitas nasional sekaligus meningkatkan kepastian jangka panjang, melampaui sekadar proyek maupun investasi.
Penutup: Peran Danantara dalam memobilisasi investasi BUMN menjadi kunci menjembatani kesenjangan pembiayaan infrastruktur yang tidak bisa sepenuhnya ditanggung APBN. Jika tata kelola dan koordinasi antarentitas berjalan rapi, dana investasi negara ini berpeluang mempercepat pembangunan yang inklusif sekaligus menarik modal asing ke sektor strategis.