SUMATERA UTARA — Laporan terbaru dari aplikasi identifikasi penelepon Kaspersky Who Calls mengungkap tren yang mengkhawatirkan bagi pengguna smartphone di Indonesia. Data yang dirilis Senin (7/9/2026) menunjukkan porsi panggilan penipuan terus berfluktuasi sepanjang tahun, dengan titik tertinggi terjadi pada Mei 2026 yang menembus 11,09%.
Fluktuasi ini menurut Kaspersky menandakan ancaman yang berkembang dinamis dan sulit diprediksi, bukan sekadar pola yang stabil. Adapun level terendah sempat tercatat pada Februari 2026 dengan angka 1,62%.
Jika panggilan penipuan berfluktuasi, gangguan berupa panggilan spam justru konsisten tinggi. Sepanjang periode yang dianalisis, spam call menyumbang lebih dari 65% dari seluruh panggilan yang ditandai setiap bulannya.
Puncaknya terjadi pada April 2026 ketika persentase spam mencapai 74,7%. Ini menunjukkan bahwa gangguan non-penipuan tetap menjadi keluhan utama pengguna di dalam negeri, jauh melampaui panggilan yang secara spesifik ditujukan untuk menjebak korban.
Chee Hong Chee, Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky, menjelaskan bahwa penjahat siber kini bergerak melampaui metode tradisional. Mereka telah merambah jauh ke dalam ekosistem seluler dengan memanfaatkan berbagai celah baru.
"Mulai dari kampanye hadiah palsu dan tawaran belanja penipuan hingga iklan berbahaya dan tautan phishing, pelaku serangan terus menemukan cara baru untuk memanipulasi pengguna secara langsung melalui ponsel pintar mereka," ujarnya dalam siaran pers yang diterima detikINET.
Riset global Kaspersky mengenai spam dan phishing untuk 2025 menemukan bahwa penipu semakin mengandalkan domain palsu, typosquatting, dan tautan phishing untuk mencuri kredensial serta dana. Tautan berbahaya ini tidak lagi hanya tersebar lewat email, melainkan juga melalui pesan teks, aplikasi pesan instan, media sosial, hingga tawaran pekerjaan palsu dan giveaway aset kripto.
Salah satu temuan yang patut diwaspadai adalah penyalahgunaan akun pesan instan yang telah disusupi. Akun-akun ini kerap dipakai untuk menyebarkan tawaran penipuan yang tampak seolah berasal dari kontak terpercaya korban.
Kredensial untuk platform pesan instan dan portal layanan pemerintah menjadi sasaran utama peretas. Alasannya jelas: akses ke akun-akun tersebut dapat memfasilitasi pencurian identitas dan pembobolan akun lain yang lebih luas.
Secara global, data Kaspersky menunjukkan 13,74% deteksi lampiran email berbahaya terjadi pada perangkat pengguna di China. Vietnam (4,14%) dan Malaysia (3,70%) juga masuk dalam daftar negara yang paling terdampak di kawasan ini.
Meningkatnya ketergantungan konsumen pada ponsel untuk komunikasi, belanja, pembayaran, hingga akses layanan digital membuat perangkat ini menjadi ladang empuk bagi penjahat siber. Kaspersky merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi yang bisa diterapkan pengguna.
Bagi pelaku bisnis digital, temuan ini menjadi pengingat bahwa keamanan data pelanggan adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Investasi pada sistem verifikasi dan edukasi pengguna akan jauh lebih murah dibandingkan biaya pemulihan reputasi pasca-serangan siber.