6 Tren Wisata 2025 Ada di Banyuwangi, dari Desa Adat Osing sampai Kerja di Pantai

Penulis: Sutomo  •  Senin, 07 September 2026 | 16:33:01 WIB
Wisatawan mengamati aktivitas warga Suku Osing di Desa Wisata Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur.

SUMATERA UTARA — Kabupaten Banyuwangi yang dijuluki The Sunrise of Java ini tidak hanya berhenti pada keindahan Kawah Ijen. Melalui pengelolaan yang adaptif, Bumi Blambangan ini menghadirkan ragam aktivitas yang menjawab kebutuhan pelancong modern. Data dari laman resmi Kemenpar mencatat ada enam tren besar yang mendominasi industri pariwisata tanah air, dan Banyuwangi menjadi salah satu lokasi yang mengimplementasikan seluruhnya secara konkret.

Desa Kemiren: Jantung Budaya Suku Osing

Tren cultural immersion mengajak wisatawan untuk tidak sekadar menonton, tetapi ikut larut dalam kehidupan warga. Di Desa Wisata Kemiren, pengalaman ini dimulai dari interaksi hangat dengan Suku Osing di rumah adat mereka. Anda bisa belajar memainkan angklung paglak atau bertepatan mengikuti ritual Ider Bumi, sebuah festival budaya yang memperlihatkan kearifan lokal yang masih lestari.

Meru Betiri: Wisata Hijau dengan Edukasi Konservasi

Kesadaran akan jejak karbon melahirkan tren eco-friendly tourism. Taman Nasional Meru Betiri, khususnya Pantai Sukamade, menjadi rujukan utama wisata hijau di Banyuwangi. Pengelola menerapkan aturan ketat, termasuk pembatasan plastik sekali pakai. Aktivitas utamanya adalah edukasi perlindungan habitat dan momen paling dinanti: melepas tukik atau anak penyu ke laut lepas secara bertanggung jawab.

Kawah Ijen dan Kuliner: Berburu Pengalaman Langka

Generasi muda masa kini mendorong tren sight-doing dan lore chasing—aktif berburu narasi unik dan keterampilan baru. Pendakian ke Kawah Ijen menjawab kebutuhan ini dengan petualangan yang menantang. Setelah puas menjelajah alam, tren kuliner juga menjadi alasan utama berkunjung. Hidangan seperti Nasi Tempong dengan sambal mentahnya yang segar, Rujak Soto yang unik, hingga Ayam Kesrut menawarkan jelajah rasa yang kaya akan filosofi rempah lokal.

Healing di Kaki Gunung Ijen

Wellness tourism kini menjadi kebutuhan mendasar, terutama bagi masyarakat perkotaan. Banyuwangi meresponsnya dengan menyediakan ruang pemulihan energi di kaki Gunung Ijen. Berbagai perawatan kesehatan berbasis alam tersedia untuk menenangkan pikiran dan menyelaraskan jiwa serta raga. Suasana asri di ketinggian menjadi terapi alami yang sulit ditemukan di tempat lain.

Bleisure: Kantor Pindah ke Pantai Marina Boom

Konsep bleisure, gabungan bisnis dan liburan, semakin relevan dengan pola kerja fleksibel. Banyuwangi memfasilitasi pekerja jarak jauh dengan infrastruktur digital memadai di berbagai sudut kota. Kafe-kafe modern di kawasan Pantai Marina Boom memungkinkan Anda menyelesaikan tugas kantor dengan latar belakang Selat Bali. Setelah jam kerja usai, matahari terbenam tinggal selangkah di depan mata, atau Anda bisa memperpanjang masa tinggal untuk eksplorasi destinasi lain.

Perpaduan antara tren modern dan potensi lokal yang dikelola berbasis komunitas ini membuat Banyuwangi tumbuh sebagai destinasi berdaya saing tinggi. Durasi ideal untuk merasakan semua pengalaman ini adalah tiga hingga empat hari. Anda bisa membagi waktu untuk eksplorasi alam di pagi hari dan menikmati suasana kota di sore harinya.

Reporter: Sutomo
Sumber: kabarbanyuwangi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top