MEDAN — GBN-MI DPP Sumatera Utara tidak ingin peringatan Hari Pahlawan tahun ini berhenti pada seremoni belaka. Melalui rapat koordinasi yang dipimpin Ketua DPP Iskandar Zulkarnean Nasution, organisasi ini merancang cara baru untuk menanamkan semangat kepahlawanan kepada generasi yang lahir jauh setelah masa kemerdekaan.
Setidaknya ada empat kegiatan yang disiapkan untuk memperingati Pertempuran Medan Area. Puncaknya adalah upacara peringatan yang dijadwalkan berlangsung pada 10 November 2026 di Taman Segitiga Perjuangan, lokasi yang dikenal sebagai titik pertemuan Medan Area.
Dua hari sebelum puncak acara, tepatnya 8 November 2026, Lapangan Merdeka Medan akan menjadi lokasi lomba menggambar mural bertema Pertempuran Medan Area. Setiap tim terdiri dari tiga orang peserta yang diminta menerjemahkan semangat perjuangan ke dalam karya visual.
Di lokasi yang sama, panitia juga menggelar lomba membuat video pendek menggunakan aplikasi kecerdasan buatan (AI). Tema yang diangkat masih seputar Pertempuran Medan Area dan sosok Mayor Bedjo. Pendekatan ini dipilih agar sejarah lebih mudah diterima generasi muda yang akrab dengan teknologi digital.
Adapun lomba menulis cerita tentang Pertempuran Medan Area akan berlangsung lebih awal, mulai awal Oktober hingga awal November 2026. Mayor Bedjo diangkat sebagai tokoh sentral dalam lomba karya tulis ini.
Dalam pembukaan rapat, Iskandar mengulas kembali peran Mayor Bedjo yang memimpin laskar perjuangan Napindo (Nasional Indonesia) di Medan Utara. Berbagai elemen perlawanan seperti Pesindo, Hizbullah, dan Barisan Merah disebut berhasil dikonsolidasikan untuk menghadapi pasukan Sekutu dan NICA.
Sejarah mencatat, perlawanan rakyat Medan dipicu oleh insiden perusakan lencana Merah Putih di Jalan Bali pada 13 Oktober 1945. Ketegangan semakin memuncak ketika Sekutu memasang patok batas wilayah bertuliskan "Fixed Boundaries of Protected Medan Area", yang justru membatasi ruang gerak masyarakat dan memicu perlawanan bersenjata di berbagai penjuru kota.
Bagi GBN-MI, rangkaian peristiwa itu bukan sekadar catatan masa lalu. Iskandar menilai sejarah perjuangan penting terus dikenalkan sebagai pendidikan kebangsaan, terutama kepada generasi muda yang semakin jauh dari pengalaman langsung mempertahankan kemerdekaan.
Rangkaian kegiatan tahun ini juga akan menyentuh lokasi-lokasi yang berkaitan dengan memori perjuangan. Kawasan Tugu Juang '45 atau Gedung Juang 45 serta Tugu Apollo menjadi bagian dari konteks yang diangkat panitia untuk memperkuat narasi sejarah.
Iskandar menegaskan bahwa kisah perjuangan tidak hanya cukup disampaikan lewat upacara atau pidato. Karena itu, GBN-MI mendorong sejarah diolah melalui karya seni, tulisan, dan media digital agar relevan dengan cara belajar generasi masa kini.
Kegiatan Hari Bela Negara pada Desember 2026 nanti direncanakan menjadi agenda penutup program kerja GBN-MI DPP Sumatera Utara sepanjang tahun tersebut.