SUMATERA UTARA — Laporan Bloomberg, Minggu (23/8/2026), menyebut sejumlah konsumen terbesar Nvidia sudah diberi tahu soal rencana kenaikan harga ini. Kenaikan bervariasi tergantung generasi chip dan konfigurasi memorinya. Perusahaan pembuat server untuk raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan Oracle kabarnya juga sudah menerima pemberitahuan serupa.
Akar masalahnya ada pada harga chip memori yang melonjak. DRAM adalah komponen vital bagi GPU dan sistem akselerator Nvidia, yang menjadi jantung komputer untuk menciptakan dan menjalankan software AI. Efektivitas chip ini sangat bergantung pada jumlah DRAM yang digunakan.
Tiga produsen memori dunia—Samsung, SK Hynix, dan Micron—menguasai hampir seluruh produksi. Meski sudah menggenjot kapasitas produksi, mereka tetap kesulitan mengejar permintaan industri AI yang tumbuh eksponensial.
Fokus produksi yang tersedot ke sektor AI membuat pasokan memori untuk perangkat konsumen—smartphone, laptop, hingga konsol gaming—terpinggirkan. Akibatnya, harga perangkat di kategori ini ikut merangkak naik dalam setahun terakhir.
Dampaknya sudah terasa di pasar GPU PC. Tom's Hardware mencatat harga median GeForce RTX 5070 yang sempat di angka USD 659 pada Juni, melonjak 36 persen menjadi USD 899 di awal Agustus. Ini sinyal buruk bagi gamer yang berencana upgrade kartu grafis dalam waktu dekat.
Bagi pemain di Indonesia, kenaikan harga GPU PC dan potensi kenaikan harga konsol bisa semakin memberatkan. Namun, kabar ini juga jadi penanda bahwa industri AI tengah menggeser prioritas produksi komponen global.
Nvidia belum memberikan komentar resmi atas laporan tersebut. Yang jelas, keputusan ini akan menentukan arah harga perangkat gaming dalam beberapa bulan ke depan, baik untuk upgrade PC maupun membeli konsol baru.