MEDAN — Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya menegaskan Hari Indonesia Menabung 2026 bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum strategis untuk membiasakan anak-anak mengelola keuangan secara bijak sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan menabung menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter ekonomi generasi muda di tengah derasnya arus layanan keuangan digital.
"Menabung mungkin terlihat sederhana, tetapi dari kebiasaan itulah tumbuh sikap disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan merencanakan masa depan," ujar Surya usai menghadiri acara tersebut di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Medan, Rabu.
Data SNLIK 2025 menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan sudah sangat tinggi, namun pemahaman tentang produk keuangan masih tertinggal. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat membuat pelajar dan masyarakat umum rentan terhadap berbagai modus kejahatan finansial.
Oleh karena itu, Wagub menekankan pentingnya penanaman literasi keuangan sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi di masa depan. Kebiasaan mengelola keuangan secara bijak disebut menjadi perisai utama dari jeratan pinjaman online ilegal dan skema investasi yang tidak jelas.
Upaya konkret penguatan budaya menabung di daerah telah direalisasikan oleh Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Sumatera Utara. Sepanjang 2025, TPAKD berhasil membuka 3.516 rekening pelajar melalui Program Siswa Teladan yang menyasar 10 sekolah.
Program ini merupakan bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk menjangkau generasi muda di seluruh kabupaten/kota. Secara paralel, sosialisasi literasi keuangan juga telah digelar di 23 kabupaten/kota se-Sumatera Utara dan berhasil menjangkau 23.414 pelajar.
Direktur Utama Bank Sumut Heru Merdiansyah menyampaikan komitmen pihaknya dalam mendukung penguatan literasi keuangan melalui produk Simpanan Pelajar (Simpel). Hingga Agustus 2026, Bank Sumut telah melaksanakan 155 kegiatan literasi keuangan di 143 sekolah dari jenjang TK hingga SMA.
Kegiatan tersebut didukung oleh 68 kantor cabang yang tersebar di wilayah Sumatera Utara. Heru menegaskan bahwa produk Simpel bukan hanya sekadar tabungan, tetapi juga sarana untuk mengenalkan anak-anak pada layanan perbankan formal.
"Bagi Bank Sumut, Simpel bukan hanya produk tabungan, tetapi sarana mengenalkan anak-anak kepada layanan perbankan formal dan sekaligus membangun kebiasaan bertanggungjawab terhadap keuangan," jelas Heru.
Pemprov Sumut menilai kebiasaan menabung yang ditanamkan sejak pendidikan dasar akan berdampak signifikan pada ketahanan ekonomi individu di masa depan. Anak-anak yang terbiasa merencanakan keuangan sejak dini dinilai lebih siap menghadapi fluktuasi ekonomi.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, perbankan, dan institusi pendidikan menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan sinergi tersebut, diharapkan budaya menabung tidak hanya menjadi gerakan musiman, tetapi terinternalisasi sebagai gaya hidup masyarakat Sumatera Utara.