MEDAN — Rumah reot berdinding papan lapuk di Kelurahan Timbang Deli, Kecamatan Medan Amplas, menjadi saksi pahitnya jurang antara data birokrasi dan realitas hidup. Ani br Sitohang, seorang lansia, harus hidup tanpa satu pun sentuhan bantuan sosial dari pemerintah. Alasan administrasi yang tercatat di sistem membuatnya terlempar dari daftar penerima manfaat.
Padahal, kondisi rumah yang dihuninya jauh dari kata layak. Laporan darurat yang masuk melalui Call Centre PDI Perjuangan Kota Medan menjadi pintu awal kedatangan Hasyim bersama jajaran pengurus DPC pada Jumat (pekan ini).
Desil 6 dalam data kemiskinan biasanya merujuk pada kelompok masyarakat yang dianggap cukup mampu secara ekonomi. Namun, di lapangan, Hasyim mendapati kenyataan yang kontras. Ani br Sitohang tidak hanya tinggal di hunian yang memprihatinkan, tetapi juga tidak pernah merasakan bantuan apa pun dari negara.
"Data itu alat untuk melayani rakyat, bukan untuk menyiksa rakyat! Jangan sampai gara-gara kaku pada angka di atas kertas —seperti dikotak-kotakkan dalam Desil 6— warga yang jelas-jelas kelaparan dan tinggal di gubuk reot malah diabaikan negara," tegas Hasyim dalam keterangannya, Jumat.
Kunjungan Hasyim tidak berhenti di kediaman Ani. Didampingi Bendahara DPC Ust. Fuad Akbar, Wakil Sekretaris Hermanto Sagala, Ketua PAC Medan Amplas Kawar Sembiring, serta Lurah Timbang Deli Vivi Andriani, rombongan meninjau rumah keponakan Ani, Noel Maranathan Sitohang.
Di rumah yang tak jauh dari lokasi tersebut, Noel tinggal bersama ibu dan dua adiknya. Sang ibu harus banting tulang menjadi pemulung atau botot demi menyambung hidup. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kemiskinan ekstrem di kawasan ini bersifat beruntun dan mengakar, bukan kasus tunggal.