SUMATERA UTARA — MALANG, KOMPAS.com — Era digital membawa tantangan besar bagi para orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Di tengah derasnya arus informasi dan godaan gawai, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa fondasi karakter adalah perisai terkuat yang bisa diberikan orang tua.
"Orang tua perlu menanamkan fondasi berupa nilai agama, budi pekerti, etika, moral karena ini penting dan akan menjadi benteng diri bagi anak-anak," ujar Arifah di STAI Ma'had Aly Al-Hikam, Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (12/2/2026).
Menurutnya, langkah membangun karakter berbasis nilai keagamaan ini akan menumbuhkan pemahaman dan rasa peduli terhadap lingkungan sekitar. Kepekaan inilah yang kelak membuat anak mampu membedakan baik dan buruknya sebuah perilaku.
Arifah tidak melarang anak menggunakan ponsel, namun ia menekankan satu syarat utama: pendampingan. "Orang tua memberikan ponsel boleh, asalkan ada pendampingan. Anak tidak bisa dilepas sendirian," katanya.
Pendampingan ini bukan sekadar mengawasi, melainkan juga mendampingi anak saat mengakses konten. Dengan begitu, anak merasa aman dan terbiasa berdiskusi dengan orang tua tentang apa yang mereka lihat di dunia maya.
Selain di rumah, lingkungan pendidikan juga menjadi garda depan perlindungan anak. Arifah mengingatkan kepala sekolah, guru, dan pegawai lembaga pendidikan untuk memperkuat sistem pengawasan guna mencegah kekerasan dan perundungan antar pelajar.
Guru bimbingan konseling (BK) pun diminta membangun kedekatan emosional dengan setiap murid. "Semua guru diberikan tugas seperti dosen pembimbing dari awal anak masuk sampai lulus, ini sebuah inovasi baru menurut saya apa yang diinisiasi oleh Pak Mendikdasmen supaya anak-anak yang mengalami persoalan terdeteksi dan dijangkau oleh BK," jelas Arifah.
Peran aktif orang tua dan sekolah menjadi penguat strategi pemerintah melalui Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA). Program ini dirancang untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi anak untuk tumbuh serta berkembang secara optimal.
Bagi ibu muda, memulai penanaman nilai ini tidak perlu rumit. Kebiasaan sederhana seperti mengajak anak mengobrol tentang kesehariannya, membatasi waktu layar dengan kesepakatan bersama, dan memberi contoh perilaku santun adalah langkah awal yang efektif.
Yang terpenting, konsistensi dan kehangatan orang tua dalam mendampingi akan membuat anak merasa aman untuk bercerita. Dari sinilah nilai-nilai agama dan etika akan tertanam kuat sebagai benteng diri mereka di masa depan.