Regulasi FCC AS Kembali Menghantam Pasar Drone Murah, Potero T3 Dilarang Terbang untuk Konsumen

Penulis: Yasir  •  Selasa, 16 Juni 2026 | 09:56:01 WIB
Larangan terbang Potero T3 oleh FCC berdampak pada pasar drone murah di AS.

Keputusan FCC ini secara efektif mematikan akses pasar utama bagi drone murah yang mengandalkan frekuensi radio tertentu. Potero T3, yang dijual dengan harga sekitar 200 dolar AS (Rp 3,2 juta), menjadi korban terbaru dari kebijakan yang menargetkan perangkat yang dianggap mengancam keamanan nasional.

Larangan ini bukan sekadar formalitas. Drone yang sudah dibeli konsumen di AS tidak bisa lagi diterbangkan secara legal untuk hobi. Pelanggar menghadapi denda besar dan penyitaan alat.

Dua Merek Terkena, Satu Celah Regulasi yang Sama

FCC mendasarkan larangan pada dugaan bahwa Potero T3 — seperti halnya DJI sebelumnya — menggunakan komponen atau teknologi yang masuk dalam daftar embargo perdagangan. Regulator tidak merilis detail teknis spesifik, tetapi menyebutkan adanya "risiko rantai pasok yang tidak dapat diverifikasi."

Bagi konsumen Indonesia, situasi ini menjadi peringatan. Drone murah yang beredar di pasar lokal kerap menggunakan modul komunikasi yang sama dengan versi AS. Meski Kominfo belum mengeluarkan larangan serupa, jejak regulasi FCC seringkali diadopsi oleh negara lain dalam waktu satu hingga dua tahun.

Dampak ke Penghobi dan Pasar Drone Entry-Level

Potero T3 selama ini menjadi pilihan utama penghobi yang ingin mencoba terbang dengan kamera 4K tanpa merogoh kocek dalam. Harganya yang setara sepertiga dari drone entry-level DJI membuatnya laris di platform e-commerce global. Kini, stok yang tersisa hanya bisa dijual sebagai barang bekas tanpa jaminan legalitas terbang.

Alternatif di kelas harga yang sama mulai menipis. Merek seperti Hubsan dan Eachine, yang juga mengandalkan komponen dari pemasok yang sama dengan Potero, mungkin menjadi sasaran berikutnya.

Strategi Bertahan: Beralih ke Frekuensi yang Disetujui

Beberapa produsen drone kecil mulai merancang ulang produk mereka agar kompatibel dengan spektrum frekuensi yang sudah disertifikasi FCC. Proses ini memakan waktu dan biaya, yang pada akhirnya akan menaikkan harga jual. Artinya, era drone murah legal di AS mungkin akan berakhir dalam waktu dekat.

Bagi pengguna di Indonesia yang sudah memiliki Potero T3, belum ada larangan resmi. Namun, komunitas pilot drone Tanah Air mulai waspada. Mereka khawatir kebijakan serupa bisa diterapkan jika pemerintah mengadopsi standar regulasi Amerika.

FCC belum memberikan pernyataan resmi mengenai jadwal pencabutan larangan. Sampai saat itu tiba, Potero T3 akan tetap menjadi drone yang tidak bisa diterbangkan secara legal di Amerika Serikat — dan mungkin, suatu hari nanti, di tempat lain.

Reporter: Yasir
Sumber: bgr.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top