SUMATERA UTARA — Catur Dermawan resmi menambah portofolio sahamnya di perusahaan yang dipimpinnya. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, transaksi pembelian itu dilakukan pada Jumat (12/6/2026) dan bersifat kepemilikan langsung untuk tujuan investasi.
Akibat pembelian ini, total kepemilikan saham Catur di PGN melonjak dua kali lipat, dari sebelumnya 20 ribu lembar menjadi 40 ribu lembar. Meskipun demikian, porsi ini masih sangat kecil, yakni di bawah 0,01 persen dari total saham beredar. Manajemen menegaskan transaksi ini murni investasi pribadi dan tidak mengubah struktur pengendalian perusahaan.
Saham PGAS sendiri mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan jangka pendek. Pada perdagangan Jumat (12/6), harga saham emiten subholding Pertamina ini ditutup menguat 2 persen ke level Rp1.530. Dalam sepekan terakhir, saham PGAS bahkan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,66 persen, bergerak dalam rentang Rp1.350 hingga Rp1.560 per saham.
Namun, jika ditarik lebih panjang, kinerja saham ini masih tertekan. Dalam sebulan terakhir, PGAS terkoreksi 17,30 persen. Lebih parah lagi, dalam tiga bulan dan enam bulan terakhir, saham ini masing-masing ambles 21,13 persen dan 16,39 persen. Secara year to date (ytd), harga saham PGN sudah turun 19,90 persen.
Meski begitu, investor yang bertahan dalam jangka panjang masih menuai hasil. Dalam tiga tahun terakhir, saham PGAS naik 17,24 persen, dan dalam lima tahun terakhir apresiasinya mencapai 25,93 persen. Namun, dalam satu dekade terakhir, saham ini masih mencatatkan penurunan sebesar 38,31 persen.
Kabar baik datang dari kebijakan dividen. PGN telah mengumumkan akan membagikan dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai total USD172,29 juta. Setelah dikonversi, investor berhak menerima dividen sebesar Rp125,6 per lembar saham.
Jadwalnya sudah ditetapkan. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 4 Juni 2026, dengan ex dividen pada 5 Juni 2026. Adapun pembayaran dividen akan dilakukan pada 24 Juni 2026. Keputusan ini telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Mei 2026.
Di balik gejolak harga saham, fundamental bisnis PGN sebenarnya masih kokoh. Sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan sebesar USD3,9 miliar, tumbuh 5 persen dibanding tahun sebelumnya. Kinerja ini ditopang oleh segmen midstream dan downstream berbasis infrastruktur gas bumi.
Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menegaskan perusahaan terus menjaga keandalan penyaluran energi. “Kami mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG serta menerapkan pengelolaan volume secara adaptif untuk memastikan keberlanjutan layanan energi kepada pelanggan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (7/3/2026).
Dari sisi operasional, volume niaga gas bumi PGN mencapai 836 BBTUD. Volume transmisi gas juga meningkat 4 persen menjadi 1.609 MMSCFD, seiring naiknya permintaan dari pelanggan industri dan pembangkit listrik. Sementara itu, volume regasifikasi LNG melalui FSRU Lampung dan Terminal Arun tumbuh 17 persen menjadi 254 BBTUD.
PGN juga mencatatkan laba operasi sebesar USD519,6 juta dan laba bersih USD215,4 juta. Perusahaan menambahkan lebih dari 230 kilometer jaringan pipa distribusi gas bumi sepanjang tahun lalu. Meski ada penyesuaian nilai aset non-cash di anak usaha hulu, manajemen menegaskan hal itu tidak mengganggu arus kas operasional.