MEDAN — Sebanyak 5.967 jamaah haji asal Sumatera Utara tengah menjalani fase pemulangan melalui Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang sejak 2 hingga 21 Juni 2026. PPIH Debarkasi Medan memastikan pengawasan kesehatan tetap menjadi prioritas utama, mengingat jamaah telah menjalani rangkaian ibadah selama 40 hari di Arab Saudi.
Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan, dr Ratna Budi Hapsari, menegaskan bahwa jamaah tidak perlu datang ke puskesmas saja. "Kalau sampai 21 hari dari sekarang ada gejala sakit, ya langsung ke faskes terdekat. Tidak harus ke puskesmas," ujarnya di Asrama Haji Medan, Sabtu.
Faskes yang dimaksud mencakup rumah sakit, klinik kesehatan, praktik dokter perorangan, hingga bidan perorangan yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota se-Sumatera Utara. Setiap jamaah yang hendak memeriksakan diri diwajibkan membawa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH).
Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi secara dini berbagai penyakit yang mungkin muncul, termasuk Middle East respiratory syndrome Corona Virus (MERS-CoV). Penyakit ini dinilai berbahaya karena dapat menular dan mematikan, terutama bagi jamaah haji lanjut usia.
"Nanti disampaikan saja, misal saya ada gejala batuk dan baru pulang dari haji di tanggal sekian. Kalau dibilang seperti itu, nanti petugas kesehatan akan peduli karena harus diperiksa lebih detail," kata dr Ratna.
Hingga kloter 10, PPIH Debarkasi Medan mengklaim belum menerima laporan dari kabupaten atau kota se-Sumatera Utara terkait jamaah yang terinfeksi penyakit di Arab Saudi. Meski begitu, imbauan terus disampaikan setiap kali kloter tiba di debarkasi agar para jamaah tidak lengah.
PPIH memastikan koordinasi dengan seluruh faskes di daerah terus berjalan. Langkah ini dinilai krusial mengingat mobilitas jamaah yang tinggi setelah tiba di kampung halaman masing-masing, sehingga deteksi dini menjadi kunci utama dalam pencegahan penyebaran penyakit.