Masrang dan Cahaya dari Aceh: Kisah Petugas PLN Nusa Daya yang Menyalakan Harapan di Tengah Gelap

Penulis: Redaksi  •  Kamis, 25 Desember 2025 | 07:30:07 WIB

PantauAceh.com - Petugas pemeliharaan jaringan listrik PLN Nusa Daya, Masrang, masih mengingat jelas tanggal 7 Desember 2025. Dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, ia meninggalkan rumah dan dua anak perempuannya untuk sebuah tugas yang tak biasa: bergabung dalam tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) PLN Nusa Daya yang dikirim ke Langkahan, Aceh, wilayah yang gelap setelah diterjang banjir.

Di usia 50 tahun, sebagian orang memilih pekerjaan yang lebih dekat dengan keluarga. Namun bagi Masrang, panggilan tugas adalah panggilan kemanusiaan.

“Jaringan listrik di sana lumpuh. Saya minta izin istri dan anak-anak untuk berangkat, meski wilayahnya belum sepenuhnya aman,” ujarnya.

Perjalanan menuju Langkahan bukanlah perjalanan singkat. Dua hari penuh ia tempuh melalui jalur darat, laut, dan udara, hingga akhirnya tiba pada 9 Desember 2025.

Di sana, gelap bukan hanya soal lampu yang padam, tetapi juga tentang kehidupan yang terhenti. Sekolah tak berjalan normal, aktivitas warga terbatas, dan malam terasa jauh lebih panjang.

Di tengah kesibukan memperbaiki jaringan listrik, satu peristiwa membekas kuat di benak Masrang. Seorang anak perempuan kecil menghampirinya. Usianya kira-kira sama dengan anak bungsunya di rumah.

Dengan suara pelan, anak itu meminta pakaian—bukan mainan, bukan makanan.

Masrang terdiam. Air matanya jatuh. “Saya langsung teringat anak saya di rumah. Seadanya saya kasih. Cadangan makanan kami, mi instan dan pakaian seadanya,” katanya lirih.

Dalam gelap Aceh, Masrang seakan melihat wajah anak perempuannya di Sumbawa. Tangis itu tak menghentikan langkahnya. Justru menjadi energi yang menguatkan tekad.

Bersama tim, Masrang bekerja siang dan malam—memanjat tiang, menarik kabel, membenahi jaringan yang rusak. “Selama di Langkahan, hujan lebat terus turun hingga baju kami tak pernah kering,” katanya.

Baginya, menyalakan listrik bukan sekadar menyalakan lampu, tetapi menghidupkan harapan: agar anak-anak bisa belajar kembali, warga beraktivitas, dan malam tak lagi menakutkan.

Masrang tidak sendiri. Bersama ribuan petugas PLN lainnya, ia ikut menyalakan Aceh yang sempat gelap. Mereka mendirikan kembali tiang-tiang listrik yang roboh, memperbaiki trafo, hingga membenahi pembangkit yang terendam.

Bagi Masrang—yang bukan pejabat dan bukan pembuat kebijakan—nyala Aceh adalah cerminan semangatnya untuk terus berkarya.

Hingga ujung Desember 2025, tugas itu dituntaskan. Masrang kembali ke Sumbawa membawa lelah di tubuhnya, namun juga kebanggaan di dadanya. Ia bukan pejabat, bukan pula pengambil kebijakan. Ia hanya seorang petugas lapangan.

Di Langkahan, cahaya yang kembali hadir menjadi bukti bahwa pemulihan bukan hanya tentang mesin dan jaringan, tetapi tentang manusia-manusia seperti Masrang yang rela meninggalkan rumah demi menyalakan harapan.

Di Langkahan pula, Masrang menjadi saksi bahwa di balik cahaya yang kembali menyala, ada air mata, pengorbanan, dan cinta seorang ayah untuk anak-anak yang bahkan tak pernah ia kenal. Menyala Acehku…

Reporter: Redaksi
Back to top