Pencarian

Tembok Perbatasan Trump Rusak Geoglyph Arizona Berusia 7.300 Tahun

Jumat, 09 Oktober 2026 • 13:19:01 WIB
Tembok Perbatasan Trump Rusak Geoglyph Arizona Berusia 7.300 Tahun
Geoglyph Las Playas Intaglio berusia 6.500–7.300 tahun di Gurun Sonoran, Arizona, dilindas proyek tembok perbatasan AS-Meksiko.

SUMATERA UTARA — Proyek tembok perbatasan Amerika Serikat-Meksiko yang digagas Presiden Donald Trump melindas Las Playas Intaglio, ukiran ikan raksasa di Gurun Sonoran, Arizona, pada 23 April 2026. Penanggalan mikrolaminasi pernis memperkirakan usia situs itu 6.500 hingga 7.300 tahun, lebih tua dari piramida Mesir dan Stonehenge. Kerusakan permanen ini memicu kemarahan suku adat dan pegiat konservasi.

Kontraktor pembangunan tembok perbatasan melindas Las Playas Intaglio, geoglyph sepanjang 83 meter yang dipahat di ladang lava kuno Gurun Sonoran. Kerusakan dinilai tidak dapat diperbaiki dan memicu protes keras dari suku Tohono O'odham yang menganggap situs itu bagian dari tanah leluhur mereka.

Ketua Tohono O'odham, Verlon Jose, menyebut insiden tersebut sebagai kehilangan besar yang seharusnya bisa dicegah. "Tidak ada yang lebih penting daripada sejarah kita, yang membentuk jati diri kita sebagai suku O'odham. Situs ini juga merupakan bagian tak tergantikan dari sejarah AS, sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita dapatkan kembali," ujarnya dalam pernyataan resmi.

Usia Situs Melebihi Piramida Mesir

Peneliti David S. Whitley dan Ronald I. Dorn menganalisis ulang sampel yang dikumpulkan dari situs tersebut pada 1979. Mereka memakai teknik penanggalan mikrolaminasi pernis, yakni membandingkan lapisan mikroskopis pernis batuan dengan catatan iklim regional.

Metode ini memanfaatkan pergeseran besar antara periode paleoklimatik basah dan kering yang menghasilkan laminasi mikrostratigrafi berwarna hitam kaya mangan, oranye, dan kuning pada lapisan batuan. Perbedaan warna itu terlihat pada penampang ultra tipis di bawah mikroskop optik.

Hasilnya, geoglyph tersebut diperkirakan berusia sekitar 6.500 hingga 7.300 tahun. Karena lapisan pernis terbentuk setelah ukiran dibuat, Whitley dan Dorn meyakini usia sebenarnya bisa lebih tua lagi. Angka itu menempatkan situs ini 2.000 tahun lebih awal dari piramida Mesir dan 1.500 tahun sebelum Stonehenge dibangun.

Kekejaman Budaya yang Dipicu Kebijakan Perbatasan

Russ McSpadden, advokat konservasi wilayah Barat Daya di Center for Biological Diversity, menilai kerusakan ini sebagai luka bagi komunitas adat sekaligus kekayaan sejarah manusia. "Penghancuran situs berusia 6.500 tahun ini oleh pemerintahan Trump merupakan luka bagi sejarah panjang komunitas adat dan memiskinkan seluruh umat manusia," katanya.

Ia menegaskan tidak ada pemerintahan yang punya wewenang moral menghancurkan bagian tak tergantikan dari sejarah manusia. McSpadden juga membandingkan insiden ini dengan reaksi global yang akan muncul jika Stonehenge dirusak untuk pembangunan tembok.

"Bayangkan kemarahan dunia jika pemerintah menghancurkan sebagian Stonehenge untuk membangun tembok. Tempat suci ini bahkan lebih tua. Warisan masyarakat adat layak mendapatkan komitmen perlindungan yang sama," tambahnya.

Ancaman ke Situs Kuno Lainnya

Kerusakan Las Playas Intaglio bukan satu-satunya kekhawatiran. Pegiat konservasi menyoroti potensi dampak proyek tembok perbatasan terhadap Quitobaquito Springs, tempat suci di Monumen Nasional Organ Pipe Cactus.

McSpadden mendesak Kongres menuntut catatan dan kesaksian untuk menetapkan siapa yang memberi wewenang serta melaksanakan pekerjaan tersebut. Masyarakat, menurutnya, berhak mengetahui peringatan apa yang diberikan dan mengapa pengamanan gagal.

Whitley dan Dorn menegaskan bahwa terlepas dari usianya, geoglyph itu tetap penting bagi suku Tohono O'odham, Hia-Ced O'odham, dan komunitas adat lain yang menjadikan Cagar Alam Nasional Cabeza Prieta sebagai tanah leluhur. Kerusakan permanen ini menutup akses generasi mendatang terhadap salah satu catatan fisik peradaban tertua di Amerika Utara.

Follow inisumut.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks