LANGKAT — Perjalanan wisata dimulai dari dermaga di Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang. Wisatawan menaiki sampan tradisional untuk menyusuri aliran sungai yang dikelilingi hamparan hutan mangrove. Pengelolaan kawasan ini berada di bawah Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera dengan pendampingan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara.
Lima Titik Jelajah dan Tiga Spot Favorit
Ketua KTH Mangrove Sejahtera, M Aliandi Syaputra, menyebut ada lima tempat yang wajib ditelusuri wisatawan dalam paket wisata mangrove. Tiga di antaranya menjadi spot favorit, yaitu Pulau Burung, tempat koloni kalong raksasa, dan Pantai Cemara.
"Wisata mangrove di sini ada lima tempat yang wajib kita telusuri. Untuk spot favorit ada tiga, yaitu Pulau Burung, tempat koloni kalong (kelelawar) raksasa, dan Pantai Cemara," ujar Aliandi saat berada di kawasan Pantai Cemara, Selasa (29/9/2026).
Setiap lokasi punya daya tarik berbeda. Pulau Burung menjadi kawasan untuk menikmati kehidupan satwa, sementara koloni kalong raksasa menawarkan pengalaman wisata yang jarang ditemui di daerah lain.
"Pantai Cemara tak hanya menyuguhkan panorama pesisir, tetapi juga menjadi lokasi edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove dan kawasan pesisir," tutur Aliandi.
Wisatawan Mancanegara Cari Ular hingga Buaya
Minat wisatawan tidak seragam. Aliandi menyebut sebagian wisatawan mancanegara justru mencari medan khusus, seperti ingin melihat ular atau buaya. Untuk menemukan satwa tersebut, pengelola harus menyusuri sepanjang lokasi mangrove.
"Jadi untuk mencari itu kita haru menyusuri sepanjang lokasi mangrove disini. Dikarenakan wisawatan ini memiliki minat yang berbeda-beda," ucapnya.
Kendala lain datang dari kondisi alam. Pengelola harus mencermati pasang surut air karena perjalanan tidak ditempuh lewat darat. Waktu keberangkatan menentukan apakah sampan bisa masuk ke seluruh titik jelajah.
Aliandi juga mengakui kemampuan bahasa Inggris anggota masih belum sempurna. Pihaknya berharap BBKSDA terus membantu dan memberdayakan kelompok agar pengelolaan wisata berjalan lebih baik.
"Dan ketiga cara memberlakukan wisatawan asing. Harapan kedepan untuk BBKSDA agar tetap membantu kami dan memberdayakan kami, dan mengedukasi kami agar kami bisa berjalan lebih baik lagi," tutur Aliandi.
BBKSDA Dampingi Kelompok lewat Sekolah Lapang
Kepala BBKSDA Novita Kusuma Wardani menyatakan pihaknya tetap mendampingi kelompok masyarakat yang mengembangkan wisata alam mangrove, khususnya di Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut. Pendampingan diberikan melalui sekolah lapang dan sejumlah pelatihan.
"Kami memberikan pelatihan terkait CHSE, dan pelatihan bahasa inggris. Mungkin kedepannya untuk pelatihan interprestasi, pengenalan jenis satwa atau tumbuhan akan kita coba kembangkan," ucap Novita.
BBKSDA juga membantu promosi melalui flyer dan paket wisata yang dipamerkan di beberapa pameran. Menurut Novita, pengelolaan wisata berbasis konservasi alam menjadi salah satu upaya mengurangi ketergantungan masyarakat pada kegiatan ekstraktif.
"Dulunya yang menjadi penyebab mangrove rusak adanya pembuatan arang yang mau tak mau menebang kayunya lalu menjadi arang sampai habis. Lalu di alihfungsikan dengan tanaman yang tidak sesuai," ujarnya.
Pengembangan kegiatan yang tidak merusak alam dinilai dapat menjaga kawasan sekaligus mencegah pembalakan liar.
Target PNBP Belum Ditetapkan, Pemesanan Kini Elektronik
Terkait Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), Novita menyebut BBKSDA belum menetapkan target khusus untuk kawasan wisata tersebut. Pengelola mulai menerapkan sistem pemesanan secara elektronik payment termasuk booking online seiring meningkatnya jumlah pengunjung.
"Untuk target PNBP belum kami tetapkan secara khusus. Kami akan menghitung dulu karena setiap spot memiliki kapasitas yang berbeda," jelasnya.
Perhitungan daya dukung dan daya tampung kawasan akan menjadi dasar penentuan pengelolaan dan target kunjungan. Untuk sementara, BBKSDA menginisiasi agar kawasan ini berkembang lebih dulu tanpa membebani kelompok yang sedang bekerja.
"Untuk sementara kami menginisiasi agar ini bisa berkembang dulu, sehingga tidak membebani kelompok yang sedang bekerja," pungkas Novita.
Kegiatan wisata konservasi tersebut turut dihadiri Bobby Nopandri selaku Kepala Seksi BKSDA Wilayah II Stabat, Guntur Siregar selaku Perencana Ahli Pertama, Rezki Indah Siregar, Parulian Situmorang, Nofri Yeni, serta sejumlah pejabat BBKSDA Sumatera Utara lainnya dan anggota KTH Mangrove Sejahtera.